A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 12 Maret 2017)

Sumur umum di Bali
SUARA paling menyenangkan yang saya dengar di masa kecil adalah suara yang muncul dari dasar sumur umum. Sumur itu terletak di kelokan jalan sebelum tanjakan ke arah krematorium dan Klenteng Sam Po Kong Gedung Batu, Semarang. Di situ, orang-orang yang tinggal di daerah perbukitan mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Kami selalu mampir ke sana setiap kali melintasinya, tidak untuk mengambil air sebab sumur itu dalam sekali dan timbanya besar. Tidak ada satu pun di antara kami yang kuat mengambil air dengan timba besar dari sumur yang sedalam itu. Kami hanya melongokkan kepala di mulut sumur dan menyapa.

“Halooo!” teriak kami.
Halooo!” sahut sumur itu.
“Kamu sedang apa?”
Kamu sedang apa?
“Siapa namamu?”
Siapa namamu?

Ia selalu mengembalikan apa yang kami sampaikan. Salah seorang teman, yang terbesar di antara kami dan paling berpengetahuan, mengatakan bahwa di dasar sumur itu ada jin yang suka menirukan apa pun omongan kami. Di sekolah kami belajar tentang gema, tetapi kami percaya apa yang ia katakan.

Seperti kebanyakan orang menyukai misteri, kami kanak-kanak juga menyukai misteri. Ilmu pengetahuan bisa menjelaskan bagaimana gejala alam seperti gema suara kami itu terjadi, tetapi jin penunggu dasar sumur adalah sebuah misteri. Dan kami tetap percaya bahwa suara kami dikembalikan oleh jin penunggu sumur umum.

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku bahwa gema, suara yang muncul akibat teriakan kami di mulut sumur umum, bukan melulu gejala alam, tetapi ia juga gejala spiritual. “Ada bunyi yang menyertai setiap tindakan,” kata Prabhat Ranjan Sarkar, yang dikenal dengan nama spiritual Shrii Shrii Anandamurti. Buku yang saya baca adalah kumpulan ceramahnya, diberi judul Discourses on Tantra.

Ada dua bab di dalam buku itu, yang berisi lebih dari lima puluh ceramah, yang membahas tentang akar akustik (acoustic root) yang menyertai setiap tindakan. Satu bab merupakan ceramah pengantar tentang akar akustik, disampaikan pada 1979 di Taipei. Satu bab lainnya adalah ceramah panjang dan lebih teknis tentang akar akustik aksara-aksara Indo-Arya.

Menurutnya, setiap tindakan kita selalu menghasilkan bunyi. Kita mengetuk pintu dan bunyi yang muncul adalah “tok-tok-tok” jika dituliskan dalam bahasa Indonesia, atau “knock-knock-knock” dalam ejaan bahasa Inggris. Pada saat menangis, kita mengeluarkan suara tangis. Pada saat tertawa, kita mengeluarkan bunyi hahahahha. Sekarang, berkat media sosial, orang menulis bunyi tertawa lebih beragam, bisa wakakak, atau wkwkwkwkwk, atau qqqqqq....

Benda-benda di alam semesta juga melakukan tindakan. Bumi mengelilingi matahari, bulan mengelilingi bumi, gelombang dan air sungai mengalir dari satu tempat ke tempat lainnya. Semua mengeluarkan bunyi, bahkan aliran cahaya yang suaranya tak terdengar oleh telinga kita dan kucing yang mengendap-endap mengintai tikus.

Dalam spiritualitas yang diimaninya, Anandamurti meyakini—dan mengajarkan kepada para pengikutnya—bahwa pada dasarnya setiap suara adalah suci; semua berasal dari sumber yang sama, yakni dzat yang mahakuasa. Akar akustik semesta, katanya, adalah suara-suara penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. Sama sucinya dengan suara semesta adalah semua  bunyi yang dihasilkan oleh ekspresi manusia, dalam bahasa apa pun. “Saya menghormati semua bahasa di muka bumi,” katanya. “Semua memiliki martabat yang sama.” Terhadap bahasa apa pun di muka bumi ia menyebutnya “bahasa kita”.

Rasa-rasanya saya tidak bisa sesaleh itu untuk menganggap semua bunyi, atau seluruh akar akustik dari setiap tindakan, adalah suci. Saya sulit menerima bahwa bunyi yang menyertai tindakan korup sama sucinya dengan bunyi yang menyertai ungkapan belas kasih.

Sering juga saya marah mendengar ujaran-ujaran kebencian dan caci maki, yang bahkan tidak ditujukan langsung ke saya. Dan itu kemarahan yang menguras tenaga sebab, jika kita turuti, setiap hari kita bisa mendengar ujaran-ujaran tunggal berisi kebencian dan caci maki. Dunia politik kita mendorong banyak orang memproduksi ujaran-ujaran tunggal semacam itu.

“Pergilah ke pasar,” kata Anandamurti. “Di sana ada banyak suara.”

Di dalam pasar anda bisa mendengar suara orang menawar daging, menawar tempe, atau suara pedagang yang minta dimaklumi karena menaikkan harga, dan sebagainya. Mungkin juga ada teriak orang kecopetan.

Lalu jauhilah pasar itu. Anda tahu semua suara itu tetap ada, tetapi dari jarak tertentu kita tidak mendengar ujaran-ujaran tunggal. Kumpulan semua ujaran di pasar itu berubah menjadi dengung, bagian dari bunyi semesta yang, menurut Anandamurti, pada dasarnya suci—bagian dari penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran.

Memang tidak mudah mengambil jarak dari “pasar”. Sialnya, hanya dengan membuat jarak itu kita bisa mentransformasikan suara-suara kebencian dan apa pun menjadi sesuatu yang suci. Atau, setidaknya, menjadi gaung yang menyenangkan seperti suara jin dari dasar sumur. []
A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 15 Januari 2017)

Kebodohan manusia, karena berpotensi menimbulkan masalah, sering dijadikan bahan lelucon oleh orang-orang yang pintar membuat kalimat. Kata Albert Einstein: “Perbedaan antara kebodohan dan jenius adalah jenius ada batasnya.”

Dalam kalimat yang sedikit lebih panjang, novelis Prancis Gustave Flaubert merumuskannya seperti ini: “Kebodohan adalah sesuatu yang tak tergoyahkan; kita akan remuk sendiri jika menghajarnya; ia seperti granit, keras dan alot.”

Ayatollah Khomeini, dengan otoritasnya sebagai pemimpin spiritual bangsa Iran, pernah menyampaikan bahwa orang-orang bodoh adalah rombongan pertama yang akan masuk neraka karena beberapa alasan. Saya ingat empat hal. Pertama, orang bodoh bisa menyakiti orang lain tanpa menyadari efek dari perbuatannya. Kedua, ketika berbuat salah ia tidak tahu di mana kesalahannya dan tidak mampu memperbaiki diri sendiri karena kebodohannya. Ketiga, jika diberi saran yang baik, ia membantah. Keempat, mudah dikendalikan orang lain untuk membuat kerusakan.

Khomeini sedang memimpin Revolusi Iran waktu itu, dan ia menyadari bahwa sebuah revolusi niscaya tidak akan menghasilkan apa-apa jika masyarakatnya terus terbenam dalam kebodohan. Maka, yang harus diberi perhatian sepenuhnya adalah bagaimana membangun kesadaran baru dan meningkatkan kualitas mental orang banyak.

Dari kalangan intelektual muncullah Ali Syariati, dari kalangan ulama ada Murtadha Mutthahari. Keduanya saling melengkapi. Dan Iran adalah peradaban yang setua Persia dalam sejarah bangsa-bangsa, sebuah peradaban yang gemilang di masa lalu. Tetapi, apa makna masa lalu? Ada yang jauh lebih penting ketimbang menara yang menjulang di masa lalu, ialah sikap yang tepat di dalam menghadapi situasi hari ini. Iran menunjukkannya ketika negeri itu menghadapi embargo ekonomi dari Barat.

Bertahun-tahun lalu, seorang penjaga stand Iran pada pameran dagang di Kemayoran menyampaikan bagaimana mereka menghadapi kesulitan akibat embargo tersebut. Ia bilang, “Kami harus berterus terang kepada diri sendiri bahwa situasi sedang sulit. Para pemimpin kami menyerukan kampanye miskin dan meyakinkan warga negara bahwa kami bisa bangkit dengan apa yang kami punya.”

Saya terpukau mendengarkan penjelasannya. Stand Iran waktu itu hanya memamerkan jagung dan produk-produk turunannya: minyak jagung, tepung jagung, berbagai makanan dari jagung, dan sebagainya. “Ini yang kami punya,” katanya.

Kampanye miskin, penerimaan atas situasi yang sedang mereka hadapi, adalah keputusan politik yang memperkokoh solidaritas dan menggerakkan mereka untuk bangkit bersama-sama. Hal itu juga membuat para pejabat harus tahu diri untuk tidak meminta fasilitas-fasilitas mewah dari negara. Saya pernah membaca berita bahwa wakil presiden Iran memelopori berangkat ke kantor naik sepeda.

Sejalan dengan itu, masyarakat perfilman mereka melakukan pekerjaan luar biasa dan membawa kejutan ke dunia luar. Barat boleh mengucilkan Iran dalam urusan politik dan ekonomi, tetapi tidak mungkin melakukan embargo kebudayaan. Dimulai dari generasi Abbas Kiarostami, sineas-sineas Iran terus melahirkan film-film yang memukau masyarakat perfilman dunia.

Saya bukan pengamat Iran, dan tidak memiliki banyak informasi tentang negara tersebut, tetapi percakapan dengan penjaga stand itu, berita tentang wakil presiden berangkat ke kantor naik sepeda, dan keberhasilan perfilman mereka selalu melekat di dalam ingatan saya. Dalam hal itu saya mengagumi mereka dan berharap hal serupa berlangsung di Indonesia.

Karena itulah saya merasa ada harapan baik ketika mendengar cetusan tentang revolusi mental pada saat kampanye pemilihan presiden 2014 lalu dan berpikir itu akan dijalankan. Rupanya tidak.

Sampai sekarang, diakui atau tidak, secara mental kita tidak ke mana-mana, dan secara psikologis kita terbelah dalam dua kutub ekstrem pemuja dan pembenci. Mungkin tiga, yang satunya adalah kubu penonton yang sesekali mencemooh baik pemuja maupun pembenci.

Kebencian, Anda tahu, adalah emosi yang sulit disingkirkan. Dalam kasus kita hari ini, ia merupakan efek berkepanjangan dari suburnya kampanye hitam dan riuhnya persaingan antarkandidat yang begitu emosional. Saya pikir hanya politisi yang sanggup mengelola kebencian dengan baik.

Seorang politisi pada suatu saat bisa memperlihatkan kebencian sampai ke ubun-ubun kepada lawan politiknya, tetapi beberapa saat berikutnya ia sudah bisa berakrab-akrab lagi dengan orang yang sebelumnya ia benci, seolah-olah mereka adalah anak kembar yang saling menyayangi sejak di dalam kandungan. Hanya politisi yang sanggup memuji setinggi langit orang yang dua bulan sebelumnya ia caci maki sebagai burung onta atau kepala mafia atau apa pun.

Dan ia menikmati popularitas dengan menyuarakan kebencian; ia didukung secara militan oleh para pemujanya. Nanti, setelah para politisi kembali rukun, kebencian di kalangan rakyat jelata akan tetap bertahan. Seolah-olah kebencian adalah satu-satunya hal terbaik yang mereka punya. Jika harus dilepaskan, lantas apa lagi yang mereka miliki?

Para pembenci biasanya ngotot, dan ngotot adalah gejala umum pada orang-orang yang menolak prosedur berpikir, dan menolak prosedur berpikir adalah kata lain dari kebodohan. Ada satu lelucon lain: “Tuhan kelihatannya mencintai orang-orang bodoh; Dia menciptakannya banyak sekali.”

Sialnya, pemerintahan yang buruk melipatgandakan jumlah mereka, semata-mata karena tidak tahu bagaimana cara mencerdaskan warga negara. []

Artikel lain: Melamunkan Partai Indonesia Membaca

A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 25 Desember 2016)

Gua Maria di Puhsarang, Kediri
ANGIN agak kencang di luar dan seekor kelelawar terbang masuk ke dalam rumah. Pengeras suara masjid baru selesai mengumandangkan azan Isya. Saya sedang duduk membaca buku di ruang tamu saat ia datang bersama anaknya, gadis kecil berusia sepuluh tahun. “Mulai minggu depan ia harus menginap beberapa hari di tempat retret,” katanya.

Rumah retret adalah tempat kegiatan rohani para pemeluk katolik, di sana mereka berdoa dan menenteramkan diri. Gadis kecil yang akan menginap di sana masih kelas lima di sebuah madrasah ibtidaiyah. Ia mengikuti kelompok paduan suara dan senang dengan kegiatan itu. Sebentar lagi ia akan berangkat bersama teman-temannya ke Hong Kong untuk mengikuti festival.

Saya tahu paduan suara yang diikuti anak itu. Ia dibentuk oleh kawan saya satu kampus dulu, yang memang gemar menyanyi, dan menjadi aktivis gereja untuk melatih paduan suara. Di Jakarta ia masih meneruskan kesukaannya, membentuk kelompok paduan suara, untuk umum, dan pengikutnya boleh dari agama apa saja karena memang bukan paduan suara gereja. Teman-teman di kampus ia hubungi dan ia minta anak mereka untuk ikut berlatih. Jadi, ini seperti paduan suara perkoncoan saja.

Pernah ia meminta saya datang menyaksikan anak-anak asuhnya berlatih, di sebuah rumah kosong dengan tulisan “dijual” pada pagarnya, dan saya datang beberapa kali. Tiga bulan mereka berlatih di sana, dan tak bisa lagi menggunakannya ketika rumah itu dibeli orang. Harus ada tempat lain untuk berlatih.

Kawan saya memanfaatkan jaringan yang ia miliki, sama seperti kita pada umumnya, ketika sedang membutuhkan bantuan, kita akan menghubungi jaringan yang kita miliki. Kelompok paduan suara anak-anak itu akhirnya bisa berlatih di sebuah panti asuhan Katolik yang bersedia meminjamkan ruangan. Selanjutnya, ketika diperlukan latihan lebih khusyuk demi mematangkan penampilan, dua minggu sebelum anak-anak bertolak ke Hong Kong, ia mendapatkan izin menggunakan tempat retret.

“Tidak apa-apa ia menginap di tempat itu?” tanya ibu si gadis kecil. Ia terlihat agak cemas. Mungkin ia takut ada dosa di sana, takut bahwa menginap di rumah retret bagi seorang anak beragama Islam adalah tindakan yang dilarang oleh agama, dan risikonya akan ditanggung kelak di akhirat, sebuah tempat di mana siksa dan bahagia berlangsung kekal.

Saya tidak mempunyai pendapat apa pun tentang itu, juga tidak memiliki dalil agama sebagai penopang sekiranya saya memiliki pendapat. Setelah memandangi sebentar gadis kecil itu, akhirnya saya hanya bisa mengatakan: “Kelihatannya ibumu tidak terlalu nyaman jika kau menginap di sana.”

Sekarang gadis kecil itu sudah kelas dua SMP. Ia memiliki pengalaman yang lumayan banyak dalam mengenali hal-hal di luar agamanya, atau lebih tepat agama kedua orang tuanya yang secara otomatis menjadi agamanya. Lebih tepat lagi agama kakek-neneknya, agama buyut-buyutnya, atau agama orang pertama yang masuk Islam dalam silsilah keluarganya.

Ia pernah beberapa kali bernyanyi di gereja bersama teman-teman kelompok paduan suaranya, pengalaman yang tidak dimiliki oleh kedua orang tuanya. Anak-anak itu menyanyikan lagu-lagu daerah yang akan mereka bawakan dalam festival di Hong Kong. Itu cara mereka untuk mendapatkan uang tambahan, seperti pengamen, agar lebih ringan beban patungan yang harus ditanggung oleh orang tua masing-masing untuk membiayai keberangkatan anak mereka.

Ia sudah pernah melihat bagaimana cara orang-orang katolik berdoa, pernah juga masuk ke Gua Bunda Maria yang ada di halaman belakang rumah retret, dan ia mencatat pengalaman-pengalamannya dalam buku harian selama menginap beberapa hari di sana. Ia juga mempunyai pengalaman salat yang mungkin terdengar mengerikan bagi kaum garis keras.

Saya tahu semua pengalaman gadis kecil itu karena ia anak saya. Dan saya senang ia memiliki pengalaman seperti itu. Semua pengalamannya selama menginap di rumah retret ia ceritakan.

“Tahu nggak, Pak, kapan itu aku salat di depan patung Yesus,” katanya.

“Pasti dia senang kau salat di depannya,” kata saya.

“Kelihatannya begitu.”

Suaranya terdengar yakin ketika ia mengatakan “kelihatannya begitu.”

“Mungkin ia ikut mengamini doa-doamu,” kata saya. “Ia orang yang kita hormati juga, sebagai orang Islam kita menyebut namanya Nabi Isa.”

“Ya,” katanya, seolah-olah ia bisa mencerna perkataan saya.

Saya tidak tahu bagaimana ia memahami pengalaman-pengalamannya itu, tetapi saya yakin pada saatnya seluruh pengalaman itu akan memberinya pengetahuan yang bermanfaat. Ia memiliki persinggungan yang menyenangkan dengan pemeluk agama lain. Itu pengalaman yang baik baginya, dan pengalaman yang baik akan memberinya ingatan yang baik. Ia tidak akan, dan tidak perlu, menyimpan prasangka bahwa orang-orang yang beragama lain adalah ancaman, di saat sejumlah orang gemar meributkan hal-hal kecil, simbol-simbol dan atribut, sebagai sesuatu yang harus disingkirkan dari pandangan.

Hari ini saya teringat begitu saja pengalaman anak saya itu, yang terjadi tiga tahun lalu. Mungkin karena rasa pedih oleh situasi yang dipenuhi percakapan sengit dan ujaran-ujaran kebencian yang ngotot ingin didengar dan diberi perhatian. Pertengkaran semacam itu, yang tidak membawa kita ke mana-mana, sekarang sudah menjadi agenda tahunan, dan yang dibicarakan itu-itu saja.

Saya pribadi memilih mengucapkan selamat merayakan hari Natal kepada teman-teman dan siapa pun yang hari ini merayakannya. Mereka sedang merayakan hari kelahiran junjungan yang mereka teladani, hari kelahiran nabi yang saya junjung tinggi juga.


Sekolah Waldorf menyingkirkan jauh-jauh segala perangkat teknologi digital dari ruang kelas, seperti menyingkirkan racun serangga dari jangkauan anak-anak.



A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 4 Desember 2016)

Murid-murid Waldorf: Menggunakan geometri untuk berkebun.
KAMI duduk-duduk di teras rumah pada Minggu pagi pekan lalu. Anak saya sibuk dengan laptopnya, mencari foto-foto Valentino Rossi, Marc Marquez, dan beberapa animasi balap MotoGP yang tersedia di internet. Ia sedang menyiapkan bahan presentasi di sekolahnya tentang pekerjaan yang ia inginkan kelak. Saya sibuk minum kopi dan mengunyah lanting, makanan keras dari singkong yang bentuknya seperti cincin atau angka delapan, sambil menunggu penjual pecel langganan kami lewat.

“Memangnya ada perempuan yang jadi pembalap motor?” tanya saya.

“Ada,” katanya. Ia menunjukkan kepada saya foto Ana Carrasco dan Maria Herrera, dua pembalap motor dari Spanyol.

Ia tiga belas tahun sekarang, kelas dua SMP, dan sudah fasih mengoperasikan berbagai macam aplikasi di komputernya. Dalam urusan ini ia jauh lebih maju ketimbang saya, yang sampai umur tiga puluhan masih cemas menghadapi komputer, seolah-olah perangkat itu akan meledak jika saya sentuh tombol-tombolnya; jauh lebih maju dibandingkan Pak Umar Kayam (almarhum), yang hanya bisa menggunakan mesin tik untuk menulis novel Para Priyayi.

Adiknya lebih maju lagi, sudah sibuk dengan gawai (gadget) sejak umur empat tahun, seperti anak Gordon Gekko, pialang saham yang tamak dalam film Wall Street (1987) garapan Oliver Stone. Sekarang ia enam tahun, sudah mahir mengunduh video-video dari Youtube dan berbagai game di gawai ibunya. Itu jenis keterampilan yang membuat ibunya jengkel karena ponselnya menjadi lemot. Hampir setiap hari mereka ribut, dan anak itu akan membuat ancaman yang terdengar sangat mengerikan bagi ibunya: “Nanti ku-download semua.”

Saya kira kecakapan digital anak bungsu saya ini, jika dibandingkan dengan kemahiran para pengarang tua yang mandek di mesin tik, sama dengan jarak antara langit dan dasar sumur bor. Jangankan dengan para pengarang tua, dibandingkan dengan anak-anak para pioner teknologi digital pun ia jauh lebih unggul.

Anda tahu, di Silicon Valley, jantung teknologi digital Amerika Serikat, anak-anak para karyawan dan petinggi berbagai perusahaan raksasa teknologi digital, seperti Google, Yahoo, Apple, dan Hewlett-Packard sama sekali tidak mengenal komputer, apalagi smartphone. Anak-anak itu mereka sekolahkan di Waldorf School of Peninsula, sekolah mahal dengan metode pengajaran yang terlambat satu abad dibandingkan perkembangan teknologi digital hari ini.

Ada sekitar 160 sekolah Waldorf di AS dan semuanya dijalankan dengan metode yang sama. Tidak ada komputer di sekolah, tidak ada iPad, tablet, maupun telepon genggam. Sekolah itu menggunakan peralatan apa saja kecuali perangkat-perangkat teknologi tinggi. Para siswa belajar dengan pena, kertas, jarum rajut, pisau, dan juga lumpur untuk mengotori baju dan tubuh mereka.

Guru-guru di sekolah itu lebih senang mendorong para siswa berkegiatan seni, seperti menggambar dan melukis, bukan mengunduh informasi dengan komputer atau tablet. Ketika mereka belajar mitologi Skandinavia, misalnya, para siswa diminta menggambar sendiri ilustrasi untuk cerita yang mereka tulis. Bersamaan dengan istirahat makan siang, mereka belajar pembagian dengan pisau yang mereka gunakan untuk membelah kue atau apel. Pada kesempatan lain mereka belajar menemukan pemecahan soal-soal matematika melalui kegiatan merajut, atau belajar bahasa sambil bermain lempar tangkap. Guru membacakan bait puisi, para siswa berdiri melingkar dan menirukan bait yang dibacakan oleh guru. Anak yang menjadi sasaran lemparan kantung berisi kacang merah harus menangkapnya.

“Dua anak saya bersekolah di sana dan mereka bahkan tidak tahu cara menggunakan mesin pencari,” kata Alan Eagle.

Alan adalah pejabat bagian komunikasi di Google. Ia menggunakan iPad dan smartphone, dan melakukan presentasi dengan layar, tetapi kedua anaknya buta sama sekali dengan perangkat-perangkat itu. Pihak sekolah bahkan mengingatkan para orang tua untuk menjauhkan anak-anak dari semua jenis perangkat teknologi tinggi, termasuk televisi.

“Kami menerapkan metode pembelajaran yang sudah teruji sepanjang waktu,” kata seorang guru di Waldorf. “Dan itu tidak membutuhkan komputer atau tablet atau perangkat teknologi tinggi. Orang tua mereka, dan para inovator yang kita kenal, juga tidak bersentuhan dengan komputer ketika kanak-kanak.”

Amico, guru tersebut, menyampaikan bahwa mereka lebih mempercayai pendekatan kreatif dalam pendidikan ketimbang memperlihatkan gambar-gambar pada layar. Televisi, komputer, tablet, smartphone, dan berbagai perangkat teknologi tinggi membuat anak-akan membeku dan soliter. Permainan membuat anak-anak bergerak dan berimajinasi.

Apa yang baru saya sampaikan itu sebenarnya adalah kabar lawas. Di situsweb New York Times, berita ini sudah ditulis pada 23 Oktober 2011. Media besar Inggris, The Guardian, mengangkat lagi isu tentang Waldorf  pada 2 Desember 2015, dengan menambahkan informasi tentang London Acorn, sekolah di Inggris yang memiliki kebijakan serupa dengan Waldorf.

Di Morden, London, sekolah tersebut melarang penggunaan smartphone dan komputer bagi para siswa di bawah usia 12 tahun. Mereka juga dilarang menonton televisi bahkan pada hari libur. Izin untuk menonton televisi baru keluar setelah mereka melewati usia dua belas, dan itu pun terbatas pada film dokumenter yang disetujui orang tua. Untuk bisa menonton film, mereka harus menunggu satu hari setelah ulang tahun ke-14. Berselancar di internet? Tunggu dua tahun lagi saat usia mereka 16. Peraturan kejam itu berlaku baik di sekolah maupun di rumah.

Begitulah sekolah mereka. Sekolah masa depan yang dikelola dengan metode satu abad silam. Dan orang tua harus membayar mahal untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah kuno semacam itu.

Saya maupun Gordon Gekko tentu tak sanggup menyekolahkan anak saya di sekolah semacam itu. Saya terlalu lemah kepada anak-anak dan tak bisa melarang mereka memegang perangkat-perangkat yang menurut Waldorf maupun Acorn harus disingkirkan jauh-jauh dari jangkauan anak-anak, sama seperti racun serangga. Dan mereka sudah telanjur. Saya masih bersyukur bahwa sekolah SMP anak saya melarang siswa-siswanya membawa ponsel.

Pukul setengah sembilan penjual pecel lewat dan saya memanggilnya. Ia ramah dan bicaranya lantang, mungkin dari jarak 45 meter saya sudah bisa mendengarnya.

Sampean dari Cilacap, Mas?” tanyanya.

“Semarang,” kata saya.

“Saya kira dari Cilacap, soalnya kok ada lanting,” katanya.

Saya selalu berpikir lanting adalah makanan dari Gombong, sebab dulu ada saudara yang bekerja di sana dan setiap pulang selalu membawa oleh-oleh lanting.

“Itu anaknya masih kecil kok sudah pintar main laptop,” katanya. “Sekolah kelas berapa?”

“Dua SMP,” jawab anak saya.

“Sama, anak saya juga kelas dua SMP, dan sekarang juga minta laptop. Memang kalau sudah kelas dua SMP anak-anak sekarang ini pasti perlu laptop.”

Saya membenarkan saja ucapannya. Ia berpamitan setelah urusan dengan saya selesai, berbelok ke tikungan, dan saya mendengar suaranya menawarkan pecel kepada para tukang bangunan yang sedang bekerja merubuhkan rumah tetangga. Kepada mereka ia juga menyebut-nyebut laptop. Kelihatannya ia senang menyebut-nyebut kata itu. []


Inilah suasana pembelajaran di Waldorf School



Baca artikel lain:

Kampanye Gemar Membaca dengan Gong dan Slogan

Ada anak-anak sekolah menyanyikan lagu gemar membaca, ada perayaan dengan tari-tarian, ada senam gemar membaca, ada orang memukul gong, dan tentu saja ada sejumlah pejabat berpidato. Cuma, saya tidak yakin akan ada orang yang tergerak membaca setelah mendengarkan pidato bupati atau melihat orang memukul gong.
A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 11 Desember 2016)

AKHIR tahun lalu, Kedutaan Besar Finlandia mengundang empat penulis untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Jenni Haukio, 39 tahun, penyair dan Ibu Negara Finlandia yang akan bersama suaminya mengunjungi Jakarta. Tempat pertemuan di Galeri Cemara 6 dan Ibu Toety Heraty akan bertindak sebagai tuan rumah. Saya baru tiba di Bandar Lampung bersama penyair Joko Pinurbo, Ahda Imran, dan Adi Wicaksono saat membaca email undangan itu; kami ke sana untuk pelesir dan membaca di panggung—kegiatan yang selalu membuat saya gemetaran—bersama tiga penyair tuan rumah Ahmad Yulden Erwin, Ari Pahala, dan Iswadi Pratama.

Keesokannya seorang staf kedutaan menelepon, menanyakan apakah saya menerima email dan apakah bisa datang. Saya menjawab ya pada siang hari, dan melamun pada malam harinya.

Saya hampir tidak mengenal Finlandia, kecuali bahwa itu negeri utara yang tidak masuk dalam rumpun bangsa-bangsa Skandinavia, sebuah tempat yang tak banyak mendapatkan cahaya matahari, yang pada musim dingin hari-harinya selalu seperti subuh. Seperti hidup di dalam kulkas, seseorang menulis dalam sebuah blog. Ia orang Indonesia yang melanjutkan kuliah di Turku, kota tertua di sana. Saya membayangkan diri sendiri hidup di dalam kulkas. Mungkin umur saya akan panjang, daging saya awet, dan hidung saya akan menyemburkan uap, seperti bison.

Ketidaktahuan saya tentang negeri utara itu makin parah dengan fakta bahwa dari semua buku yang saya miliki, hanya ada satu buku Finlandia: Kalevala, sebuah puisi epik, tentang penciptaan dunia, tentang manusia pertama mereka, tentang cinta dan pertarungan, tentang jimat dan mantra, tentang perempuan yang tak sudi dijadikan tebusan, tentang tempat tergelap nun di sana dan bagaimana kehidupan di bumi bermula.

Saya menyukai buku itu, dan membacanya seperti mendengar lelaki tua mendongeng:

Inilah kalam penuntunku ketika kanak,
Lagu lestari masa silam,
Kisah-kisah yang dipungut
Dari sabuk Wainamoinen,
Dari tungku Ilmarinen,
Dari pedang Kaukomieli,
Dari busur Youkahainen,
Dari padang gembalaan negeri utara,
Dari hamparan rumput Kalevala.
Inilah nyanyian ayahku tercinta
Saat bekerja dengan pisau dan kapaknya
Inilah yang diajarkan ibu nan lembut
Sambil menisikkan jarum pada anyaman 
Saat aku terguling dekat kakinya

Saya menyukai dongeng hingga sekarang, dan iseng-iseng menerjemahkan buku itu beberapa tahun silam saat baru mulai membacanya, dari versi Inggris karena saya tidak memahami satu kata pun bahasa Finlandia, namun saya tidak yakin akan mengerjakannya hingga selesai satu buku. Ada banyak buku yang saya sukai, dan saya memiliki kebiasaan tak terkendali untuk menerjemahkan buku-buku yang saya sukai, lalu berhenti setelah beberapa belas halaman, mungkin satu atau dua bab, dan merampungkan bagian selanjutnya dengan membaca saja.

Pada satu hari menjelang acara pertemuan, kerisauan saya menjadi-jadi. Apa yang bisa saya bicarakan kepada orang dari negeri yang nyaris tidak saya kenali? Kemudian pikiran saya meloncat-loncat ke sana kemari, meragukan diri sendiri. Dan apa sebenarnya yang saya kenali? Apakah saya benar-benar mengenali negeri saya sendiri? Apakah saya mengenali Semarang, kampung masa kecil saya, mengenali Yogyakarta, tempat saya pernah singgah beberapa tahun, mengenali Jakarta, tempat tinggal saya sekarang? Apakah saya mengenali rasa bahagia dan kepedihan orang-orang di sekitar saya?

Tidak, untuk semua pertanyaan.

Namun akhirnya saya tetap memutuskan berangkat, mengenakan batik, seperti Nelson Mandela, tetapi dengan kepala kosong, dan berniat hanya akan menjadi pendengar, menenteramkan diri sendiri sepanjang jalan bahwa menjadi pendengar yang baik adalah bagus juga dalam suatu percakapan.

Saya bersyukur bahwa pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela, suka mengenakan batik untuk acara-acara resminya. Saya bisa menirunya dan ke mana-mana mengenakan batik. Orang-orang Afrika Selatan tidak berani mengenakan batik semasa Nelson hidup, sebab mereka menghormati pemimpin mereka. Itu pakaian dewa, kata mereka. Orang-orang di sana baru berani mengenakan batik setelah Pak Dewa mereka meninggal.

Ibu negara sedang bercakap-cakap berdua dengan tuan rumah, Ibu Toety Heraty, di dalam ruangan tertutup saat saya tiba. Ada waktu untuk merokok—sebatang, lalu sebatang lagi, lalu sebatang lagi ... sampai akhirnya mereka keluar dan kami kemudian duduk mengitari meja yang ditata untuk percakapan siang itu. Di sebelah saya penyair Eka Budianta dan novelis Okky Madasari.

Kami bicara bergiliran. Kepada Jenni saya mengakui terus terang bahwa saya tidak mengenal Finlandia dan hanya punya Kalevala di antara semua buku di rak saya. Itu buku yang disusun pada abad ke-19, oleh Elias Lönnrot, dari dongeng-dongeng lisan yang semula dinyanyikan sebagai lagu rakyat oleh orang orang-orang Finlandia.

“Oh, itu buku yang dibaca oleh hampir semua orang Finlandia,” kata Jenni. “Semua murid sekolah di negara kami membacanya sampai sekarang.”

Saya percaya. Finlandia memiliki sistem pendidikan yang baik. Selama lima belas tahun terakhir ia selalu menduduki peringkat pertama untuk urusan efisiensi dalam sistem pendidikan dan paling berhasil dalam program literasi. Indonesia di peringkat ke-28 dari 30 negara, dan yang terakhir dalam urusan gaji guru.

Sepanjang pertemuan, Jenni tampak tenang, orang-orang yang menyertainya juga terlihat tenang. Dari pengantar edisi Inggris buku Kalevala, yang ditulis oleh penerjemahnya, saya mendapatkan pernyataan bahwa “Orang-orang Finlandia terkenal penyabar, dan hanya diam jika marah. Mereka periang, saling mengasihi satu sama lain, jujur dan penuh hormat dalam berhubungan dengan orang asing.”

Setelah rampung acara, saya bercakap-cakap berdua dengan Ibu Toety Heraty, sampai maghrib. Ia memberi saya bukunya Calon Arang, dengan tanda tangan dan catatan: “Aneh, ya, kok kita baru bertemu kali ini.”

Setahun berikutnya, November tahun ini, saya membaca email dari Jenni, yang dikirimkan melalui Kedutaan, “We met in 2015 in Jakarta....

Ia mengundang saya—saya yakin juga semua penulis lain yang ia pernah temui—berpartisipasi menulis cerita kecil saja di Facebook tentang anak-anak, untuk memperingati ulang tahun UNICEF ke-70, pada 20 November. Saya bersedia, demi menghormati ajakan ramah, dari orang yang saya pikir tidak akan pernah mengingat lagi pertemuan satu kali itu, karena kesibukannya sehari-hari sebagai penulis, aktivis, dan ibu negara.

Sekarang pengetahuan saya bertambah sedikit lagi tentang negeri utara itu. Saya percaya apa yang tertulis di dalam pengantar buku Kalevala tentang orang Finlandia. Dan koleksi buku Finlandia saya menjadi dua karena tahun lalu Jenni membagi kami kumpulan puisi terakhirnya, Sinä kuulet sen soiton (You hear the music).
A.S. Laksana
(Dimuat di Koran Tempo, Sabtu, 16 Januari 2016)

MEREKA mengadiliku dengan tuduhan membunuh suami. Itu tuduhan keji. Tuhan tahu persis apa yang kulakukan meski para hakim mungkin tidak sanggup memahami tindakan-tindakanku. Aku hanya berniat mengantar suamiku ke surga. Aku mencintainya dan kupikir surga lebih baik baginya ketimbang ia tetap berada di bumi.

Aku mempercayai doa-doa dan aku berbahagia hidup bersamanya. Kadang situasiku muram dan kadang aku sedikit putus asa meski mempercayai doa-doa, tetapi aku bersyukur memilikinya sebagai suamiku. Ia mampu memberiku hari-hari baik yang akan kukenang selamanya. Ia memberiku, delapan tahun lalu, hadiah terbaik yang pernah kuterima. Petang hari sepulang dari kios ia mengatakan badannya kurang enak dan ingin tidur lebih awal. Kulihat ibu jari dan telapak tangan kanannya dibebat kain perban, begitu juga jari-jari tangan kirinya.

“Kau tidak mengabariku kalau ada masalah, Mas,” kataku.

“Hanya kecelakaan kecil, dalam dua hari sudah akan sembuh,” katanya.

Kuharap begitu. Tukang reparasi jam tidak akan bisa bekerja jika kedua tangannya dibalut perban.

Tengah malam aku terbangun oleh sentuhan sikunya dan kudengar ia meminta tolong diantarkan ke kamar mandi. Ia hendak kencing dan tak bisa membuka risleting celananya sendiri. Aku baru sadar, sejak pulang kerja ia tidak mengganti pakaiannya dan masih mengenakan kemeja batik dan celana jins yang ia pakai saat berangkat kerja. Kugandeng tangannya, tidak terlalu demam, aku agak lega.

Di kamar mandi aku membukakan risletingnya, membantunya mengeluarkan burung dari sangkar. Dan, astaga!

Burungnya berhiaskan pita merah, seperti ular jinak berdandan dasi kupu-kupu, dan di bawahnya menggelantung sepotong karton kecil berisi ucapan selamat ulang tahun untukku. Tak bisa kutahan ketawaku.

“Baik sekali dia,” kataku.

“Seperti aku, ia sangat mencintaimu,” katanya.

Seandainya kami bisa meneruskannya dengan percintaan, aku yakin itu akan menjadi percintaan kami yang paling menyenangkan, dan sekiranya benihnya berhasil membuahi telur di rahimku dan selamat sampai kelak dilahirkan, ia pasti tumbuh menjadi anak yang memberi kami kegembiraan dalam banyak hal, sebab aku sedang sangat berbahagia dengan kejutan yang ia berikan. Namun kami tidak mungkin melakukannya. Dokter melarangku melakukannya sampai dua bulan ke depan. Sebulan sebelumnya aku keguguran, itu peristiwa kedua. Yang pertama terjadi dua tahun lalu, atau satu setengah tahun setelah hari pernikahan kami.

“Jadi ia ke salon tadi sore?” tanyaku. “Siapa yang memasangkan pita di lehernya?”

Ia tertawa dan melepas perban di kedua tangannya dan memelukku kuat-kuat di kamar mandi. Aku selalu mengingat ciumannya di keningku.

Delapan tahun cukup lama dan itu terjadi sebelum kami mempunyai anak-anak, tetapi untuk segala yang melekat dalam ingatan kau akan merasa seolah-olah ia baru terjadi petang kemarin. Sekarang kami sudah memiliki anak-anak, semuanya masih di bawah lima tahun, dan mereka memerlukan tuntunan untuk menjadi anak-anak yang baik. Aku menjaga mereka dari iblis yang bisa mengubah diri menjadi apa saja. “Kalau ia mau,” kataku pada suatu malam menjelang mereka tidur, “dalam satu hari ia bisa mengubah wujudnya menjadi kantung garam, lalu menjadi lalat, lalu menjadi kutu, lalu kutu itu merayap ke liang telinga dan menyusupkan bisikan pada saat orang tidur lelap. Sekarang, berdoalah sebelum aku menceritakan kisah itu.”

Suamiku tidak begitu senang jika aku terlalu sering menceritakan kepada anak-anak kisah-kisah iblis. Tetapi aku ibu yang membesarkan mereka. Aku berhak menyampaikan apa saja yang berguna bagi keselamatan hidup mereka. Di luar soal iblis, ia tidak pernah berkeberatan pada caraku mengasuh anak-anak. Pada dasarnya ia menyerahkan sepenuhnya urusan anak-anak kepadaku dan aku merasa perlu memberi tahu anak-anakku segala sesuatu tentang iblis.

Peristiwa kantung garam, yang terjadi pada abad kesebelas, adalah peristiwa sejarah yang paling kuingat tentang bagaimana iblis bekerja, selain kejadian yang melibatkan manusia pertama dan ular pembujuk. Keduanya ada dalam buku Iblis dan Para Korbannya: Sejarah tentang Orang-Orang Beriman yang Jatuh oleh Bisikan Iblis yang kubaca bertahun-tahun lalu. Sampai sekarang buku itu masih kusimpan dan aku menyembunyikannya rapat-rapat dari suamiku agar ia tidak membakarnya. Itu satu-satunya buku yang disusun oleh Malachi Melech, seorang rabbi yang berumur panjang dan membaktikan umur panjangnya untuk meneliti perbedaan halus antara bisikan iblis dan suara Tuhan.

Aku menghormati penelitiannya. Menurut Melech, dalam pengantar buku itu, titik krusial yang membuat orang-orang beriman sering tersesat adalah mereka berpikir sedang mengikuti perintah Tuhan, padahal mereka mengikuti bisikan iblis.

Rabbi itu konon hidup sampai umur 148 tahun. Ia lahir pada 1675 dan menghilang pada umur 29, atau dua tahun setelah menyelesaikan satu-satunya buku atas namanya, untuk memulai penelitian. Menurut perkiraan ia mati pada 1823. Aku berharap kelak ada yang berhasil menemukan catatan-catatan penelitian Melech dan menerbitkannya sebagai buku. Itu akan menjadi buku penting bagi kami para ibu yang memikul tanggung jawab mengasuh dan membimbing anak-anak agar mereka tak mudah terjerumus oleh bisikan iblis yang menyerupai suara Tuhan.

Kalian tahu sendiri iblis begitu licik. Peristiwa kantung garam memperlihatkan betapa kunyuknya jahanam itu. Seorang imam Yahudi bernama Isaac B. Shem pulang dari perjalanan pada suatu sore dan melihat sesuatu teronggok di tengah jalan, ternyata sekantung garam. Ia memungutnya dan menaikkannya ke pedati dan tak menemukan benda itu saat tiba di rumah. Shem tak menyadari bahwa sekantung garam yang ia temukan telah mengubah diri menjadi lalat dan sekarang hinggap di janggut lebatnya yang kelabu dan saleh.

Dari rerimbun janggut, lalat itu terbang ke kepala dan mengubah diri menjadi kutu dan terus mendekam di situ sampai malam tiba dan merambat ke telinga pada saat Isaac tidur lelap. Sang imam yang sehari-hari khusyuk berdoa merasa mendapatkan bisikan Tuhan melalui mimpi. Keesokannya, berkat bisikan si kutu, ia mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang membingungkan kaumnya dan selanjutnya dianggap sesat dan akhirnya dianggap gila.

Keempat anakku senang mendengar cerita orang-orang zaman dulu dan aku berbahagia mengurus mereka. Sebetulnya aku masih berharap satu anak lagi sehingga jumlah anak kami menjadi lima. Tuhan menyukai angka ganjil dan kebanyakan ksatria berjumlah lima. Suamiku tidak berkeberatan dan itu berarti ia harus beristri lagi. Tidak ada masalah. Ia bisa mendapatkannya cukup mudah dari kalangan yang sekeyakinan. Cuma kuingatkan jangan mengambil perempuan yang memiliki bakat beranak kembar seperti Rahmi, istri keduanya, yang meninggal sebulan setelah melahirkan dua putra sulung kami.

“Kita tak bisa ikut campur soal anak,” kata suamiku. “Misalkan diberi kembar, kita tak bisa menolaknya.”

“Karena itu harus dicari tahu riwayat orang tua dan leluhurnya,” kataku. “Kita hanya memerlukan satu tambahan lagi. Masa harus membuang sisanya jika ia nanti melahirkan kembar dua atau tiga. Aku tidak mau melakukan tindakan sekeji itu.”

Beberapa tahun lalu aku tak bisa setenang itu merestui suamiku beristri lagi. Kami menikah karena saling mencintai dan aku merasa cocok dengannya. Aku senang berdoa dan ia orang yang khusyuk dalam menangani arloji para pelanggannya, seperti orang sedang berdoa.  Itu kesanku saat pertama kali datang kepadanya membawa arloji ayahku yang perlu direparasi. Setelah kami menikah, aku mengatakan ingin mempunyai lima anak. Ia tertawa. “Diberi berapa pun aku senang,” katanya.

Namun, sampai enam tahun setelah pernikahan, kami tidak mendapatkannya. Dua kali aku keguguran. Suamiku mengatakan jangan-jangan aku kelelahan di kantor dan ia tidak berkeberatan aku berhenti bekerja. Kupikir sayang. Pekerjaanku di kantor tidak terlalu berat dan posisiku cukup bagus.

Aku mengajaknya ikut berdoa agar Tuhan menguatkan kandunganku. Air mataku mengalir membentuk anak-anak sungai di kedua pipi. Suamiku, yang nyaris tidak pernah berdoa, akhirnya ikut berdoa dan melakukannya sekhusyuk ia mereparasi arloji. Dan pada Selasa pagi ia mendatangiku di dapur, menyampaikan kabar baik dengan suara gemetar. “Doaku dijawab, Ratri,” katanya, “Menjelang fajar aku mendengar suara, ‘Maka ambillah satu lagi untukmu, perempuan yang dari rahimnya akan lahir anak-anakmu.’ Semula aku mengira itu gema pikiranku sendiri, sebab tidak ada siapa pun di sekitarku.”

Itu bukan kabar baik. Tubuhku menggigil oleh apa yang disampaikannya.

“Mungkin itu bujukan iblis?” kataku.

“Mungkin,” kata suamiku. “Kita tidak tahu.”

“Kita akan berdosa mengikutinya, jika itu bisikan iblis,” kataku.

Sebulan lebih kami melupakan pembicaraan itu, dan ia membukanya lagi pada Jumat malam dengan menceritakan kunjungannya ke rumah seseorang dan orang itu menyarankannya mengikuti suara yang pernah ia dengar, sebab itu suara Tuhan. Kuingatkan suamiku bahwa iblis bisa menyerupai apa saja.

Mungkin suaraku terdengar ketus. Esok harinya ia mengajakku menemui orang itu­. Aku mengatakan tidak usah, tetapi tak berdaya ketika ia terus mendesakku. Kepalaku pening ketika mendengar orang itu mengatakan bahwa ia sudah membuat penelitian seumur hidup untuk menemukan perbedaan antara bisikan iblis dan suara Tuhan dan ia memastikan bahwa yang didengar oleh suamiku adalah suara Tuhan. Aku yakin ia sedang berbohong. Hanya ada satu orang di dunia ini yang melakukan penelitian itu.

“Kupikir tidak apa-apa kalaupun sampai mati aku tidak memiliki anak,” kataku. Aku mengucapkannya dengan suara pedih. Kami berbaring di tempat tidur, ia telentang, aku memunggunginya. Aku memang menginginkan anak, tetapi tidak menginginkan madu. Mungkin ada perempuan lain yang merelakan suaminya beristri dua atau tiga atau empat, aku tidak bisa seperti itu.

“Aku takut Tuhan murka pada prasangka burukmu, Ratri,” katanya. “Kita sudah berdoa dan kita diberi jalan dan kau berpikir iblis yang menjawab doa kita?”

Bahkan kalaupun itu jalan, aku tidak ingin kami menempuh jalan itu. Suamiku, atas saran si lelaki yang ucapannya membuatku pening, yang ia percayai tahu apa saja yang ada di langit dan di bumi, akhirnya memilih jalan itu. Aku berdoa setiap hari demi mendapatkan keadilan. Aku ingin memiliki anak-anak dan membesarkan mereka sebagai ibu, tetapi aku tidak menginginkan perempuan lain ada di antara kami.

Dan Tuhan mengabulkan doa-doa.

Tiga perempuan yang ia peristri meninggal tak lama setelah mereka melahirkan. Aku sedih atas kematian mereka sebab, bagaimanapun, mereka berhak hidup lebih lama. Tetapi mereka berada di antara aku dan suamiku dan Tuhan mengabulkan doaku.

Mungkin Rahmi perempuan baik. Ia berusaha ramah kepadaku, aku tahu itu, tetapi ia hadir di rumah kami sebagai pengganggu. Mataku pedih menyaksikan beberapa bulan kemudian perutnya membesar dan suamiku kian menyayanginya ketika dokter memberi tahu bahwa Rahmi mengandung bayi kembar. Seharusnya perutku yang membesar seperti itu, seharusnya suamiku menyayangiku.

Aku merasa ditinggalkan sendirian. Aku merasa sunyi. Aku berdoa kepada Tuhan agar suamiku merasakan kesunyian yang kurasakan, merasakan sengsara ditinggalkan orang yang sangat ia cintai. Dan malam itu aku mendengar suara: “Aku tidak mengabulkan doa jika kau sendiri tidak mengerjakan apa yang seharusnya kaukerjakan.”

Terima kasih, akhirnya ada keadilan di muka bumi. Tak hanya suamiku yang bisa mendengar suaraNya, aku juga bisa. Dunia terang seketika, seperti ada sejuta matahari terbit bersamaan pada saat aku bangun pagi itu. Aku menyerukan namaNya dan mengikuti petunjukNya dan mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Suamiku tampak terpukul oleh kematian Rahmi dan kulihat ia begitu kesepian selama beberapa waktu. Aku memeluknya, memberinya rasa kasih yang ia perlukan, tetapi ia tetap murung dan terlihat sengsara.

Aku menyarankannya mengambil istri lagi. Kami sudah memiliki dua anak lelaki dan aku berharap tiga lagi agar menjadi lima. Perasaanku sudah lebih baik saat itu dan aku bisa menyampaikan saran dengan suara tenang seorang istri yang ikhlas. Suamiku mengucapkan terima kasih, mengatakan sungguh beruntung mendapatkan istri perempuan mulia sepertiku.

Dua perempuan berikutnya bernasib sama seperti Rahmi. Sebetulnya aku sudah tahu apa yang harus kulakukan tanpa perlu berdoa lagi. Tetapi aku suka berdoa, dan aku mendengar lagi suaraNya menyampaikan jawaban yang sama.

Perempuan keempat mengalami nasib serupa dengan tiga perempuan sebelumnya. Aku berbahagia mendapatkan anak kelima, seorang bayi lelaki, tetapi bersedih atas kematian yang menimpa perempuan itu. Sungguh, aku tidak mendoakan kematiannya sebagaimana aku mendoakan yang lain-lain. Suamiku mengenalkannya kepadaku sebagai gadis yatim piatu sejak kecil. Aku merasa iba kepadanya. Itu perasaan yang tidak kumiliki terhadap para perempuan terdahulu.

Suamiku murung berkepanjangan dan tidak lagi mereparasi jam dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan kelompok yang telah memberinya kemudahan mendapatkan istri. Biarlah ia memilih jalannya. Aku berbahagia jika ia berbahagia, dan aku berbahagia mengurus kelima anak kami. Aku memiliki pekerjaan yang baik dan aku akan membesarkan mereka dengan doa-doa. Dan suamiku sungguh pembuat kejutan.

Setelah dua tahun berkhidmat dengan kelompoknya, ia mengatakan bahwa lima anak terlalu sedikit. Aku mengingatkannya bahwa lima adalah angka yang baik. Ia menginginkan sebanyak-banyaknya. “Kalau bisa seribu, aku ingin punya anak seribu,” katanya. Ia berlebihan. Bahkan Kurawa hanya berjumlah seratus. Mestinya ia tahu bahwa berlebihan adalah tabiat iblis.

Hari itu ia memberiku ceramah tentang kewajiban bagi lelaki untuk memiliki keturunan sebanyak mungkin dan tentang waktunya yang sudah banyak terbuang. Maka, demi waktu, ia bilang ia perlu mengambil istri sebanyak mungkin dan mendapatkan anak sebanyak-banyaknya dari mereka. Demi waktu, aku merasa yang paling mendesak saat itu adalah berdoa agar Tuhan membawanya ke surga.

“Ambillah sebanyak kau mampu,” kataku. “Silakan juga jika kau mau beristri sebulan satu. Tetapi untuk yang pertama, izinkan aku memilihkannya untukmu. Aku istrimu. Aku akan memilihkan perempuan terbaik untukmu.”

Ia berterima kasih dan memujiku sebagai perempuan paling mulia. Dua malam setelah itu, aku memilih perempuan yang paling kupercaya di antara yang tersedia.

Kupeluk perempuan itu pada hari pertama ia tiba di rumah dan kucium kedua pipinya dan kuminta anak-anakku menyayanginya seperti mereka menyayangi aku. Aku juga memintanya agar menyayangi anak-anakku dan menganggap mereka adalah anak-anak kandungnya sendiri. Air matanya mengalir oleh sambutanku dan ia berjanji memenuhi apa yang kuinginkan, seolah-olah itu hari perpisahan.

Dua minggu setelah pernikahan mereka aku memutuskan mengantar suamiku ke surga—dengan mendaraskan doa dan dengan mengerjakan apa yang seharusnya kukerjakan. Aku tidak peduli hukuman apa yang bakal kuterima. Yang paling kusedihkan adalah aku tak akan bisa lagi mengasuh anak-anakku, tetapi aku sudah memilihkan untuk mereka penggantiku. Perempuan itu, ia yang paling kupercaya menjadi ibu pengasuh bagi kelima ksatriaku saat aku tak lagi bersama mereka.[]
A.S. Laksana

(Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 3 Januari 2016)

MEREKA berpisah karena perempuan itu merasa sudah tak mungkin mereka hidup serumah dan mereka bertemu lagi tiga puluh tahun kemudian, pada Selasa siang, di sebuah pusat pertokoan dekat persilangan jalan ke arah kebun binatang. Perempuan itu 57 tahun sekarang dan separuh rambutnya sudah menjadi uban. Ia baru keluar dari toko pakaian di lantai satu, lalu naik dengan eskalator ke lantai dua, lalu naik lagi dan masuk ke toko buku di lantai tiga dan di situlah ia bertemu dengan bekas suaminya, lelaki yang pernah ia cintai dan kemudian ia benci. Itu pertemuan yang tak pernah ia harapkan; ia bahkan tak tahu, sejak mereka berpisah, apakah lelaki itu masih hidup atau sudah mati.

Lelaki itu setahun lebih muda dibandingkan bekas istrinya. Ia mengenakan kemeja putih dan celana jins biru dan sedang berdiri membuka-buka sebuah jurnal di depan rak koran dan majalah. Perempuan itu di depan rak buku-buku hobi, tak jauh dari tempat lelaki itu berdiri, menanyakan kepada pegawai toko apakah ada buku tentang cara merawat burung hantu. Suaranya sampai ke telinga si lelaki, yang secara spontan menengok ke arah sumber suara. Lelaki itu hanya menengok sekilas, lalu melanjutkan membuka-buka lagi jurnal di tangannya, namun sesaat kemudian kembali ia menengok ke arah perempuan itu—kali ini agak lama. Ia merasa mengenali perempuan itu. Dan ia yakin ia mengenali perempuan itu saat melihat tahi lalat di dagunya.

Pegawai toko pergi melanjutkan urusannya merapikan susunan buku di rak-rak setelah menjawab bahwa kelihatannya tidak ada buku tentang burung hantu.  Perempuan itu kembali melihat-lihat buku.

Di tempatnya berdiri, lelaki itu tiba-tiba merasa agak kurang enak ketika menyadari ia sudah memandangi perempuan itu terlalu lama. Untung perempuan itu tidak mengangkat wajah ke arahnya. Ia pasti akan salah tingkah jika perempuan itu tahu bahwa ia sedang mengamatinya. Sesungguhnya ia ingin mendekati perempuan itu, tetapi menjadi ragu-ragu. Mereka pernah serumah selama empat tahun dan sekarang, saat bertemu lagi, lelaki itu merasakan jantungnya berdetak cepat, sama dengan yang terjadi dulu saat ia pertama kali mencoba mendekati perempuan itu.

Ia kembali membuka-buka jurnal di tangannya.

“Ben?”

Ia membalikkan tubuh. Perempuan itu berdiri di depannya, warna rambutnya lebih terang dibandingkan warna sweater abu-abu yang ia kenakan.

“Aku sebenarnya sudah melihatmu sejak tadi,” kata perempuan itu.

“Mhhh, kau jadi memelihara burung hantu rupanya,” kata Ben.

“Tidak,” kata perempuan itu. “Cuma nanya asal-asalan tadi.”

“Oh,” kata Ben.

Ia tidak tahu harus berkata apa selain “oh.” Sunyi setelah itu, dan selanjutnya percakapan mereka seperti dimulai dari awal lagi.

“Kau tinggal di mana sekarang, Ben?” tanya perempuan itu.

“Semarang.”

“Kukira masih di Jakarta.”

“Hanya ada urusan dua tiga hari di sini. Suamimu baik-baik saja, Rina?”

Tiba-tiba lelaki itu merasa keliru. Untuk apa menanyakan kabar suaminya? Tidak ada pentingnya sama sekali mengetahui apakah suaminya baik-baik saja atau tidak.

“Ya,” kata Rina.

Sebetulnya tidak begitu, namun itu jawaban paling mudah ketimbang perempuan itu harus membuat penjelasan panjang perihal suaminya. Memang tidak terlalu buruk keadaannya, tetapi tidak baik-baik saja. Dua tahun menjelang pensiun, lelaki itu pernah mengikuti pelatihan menulis tiap Sabtu selama empat bulan. “Untuk mengisi masa-masa menganggur nanti,” katanya. Ia diajar oleh seorang penulis kacangan yang mengatakan bahwa menulis memang mudah, tetapi orang  itu sendiri jarang menulis dan akhirnya keranjingan klenik dan beberapa waktu kemudian membuka pelatihan sihir dengan semboyan: “Menyihir memang mudah.”

Suaminya sangat mempercayai orang itu dan mengikuti pelatihan sihir yang diadakannya pada akhir pekan. Rina yakin bahwa kepercayaan membuta suaminya terhadap penulis merangkap penyihir itu tumbuh karena orang itu berasal dari Kalipace, kampung halaman suaminya juga, sebuah tempat yang letaknya di perbatasan antara langit dan comberan. Sejak mengikuti pelatihan sihir, suaminya menjadi akrab dengan berbagai jenis pendulum, bola kristal, dan lencana-lencana berukir rajah Nabi Sulaiman. Terakhir, dua tahun lalu, ia membeli papan ouija, sebuah papan pemanggil yang ia katakan sebagai penemuan paling jenius dalam sejarah hubungan antarmanusia. “Dengan papan ini, kematian bukan lagi perpisahan selamanya. Orang yang masih hidup tetap bisa berhubungan dengan yang sudah mati,” katanya. Selama sebulan sejak membeli papan itu hampir tiap malam ia tekun memanggil arwah-arwah.

Lalu muncul efek samping. Lelaki itu menjadi suka membicarakan hantu-hantu, baik dengan istrinya maupun dengan tetangga, dan setengah tahun terakhir ia sering mengomel karena hantu-hantu itu sudah bertingkah melampaui batas. Hari ini mereka menyembunyikan pendulum, besoknya mengambil lencana dari tempat penyimpanan dan memindahkannya ke laci meja dapur, besoknya lagi bola kristal tak ada di tempatnya dan pembantu rumah mereka menemukannya di kebun.

“Melda,” kata Rina kepada pembantunya, “lain kali kalau kau melihat bandul atau apa pun milik Bapak tergeletak di mana saja di rumah ini, tolong kembalikan di tempat penyimpanannya, ya. Tapi beres-beresnya jangan sampai ketahuan Bapak, biar tidak cerewet dia.”

“Ya, Bu,” kata pembantunya. “Tadinya saya mau begitu, tapi takut jangan-jangan benda-benda itu tidak boleh kena tangan orang lain kecuali pemiliknya.”

“Halah! Kaupikir Bapak itu penyihir sungguhan apa?”

“Ada tetangga menganggapnya begitu. Saya pernah dengar omongan mereka waktu beli sayur.”

“Makanya kaubereskan, malu kalau lihat Bapak ngomel soal hantu ke mana-mana.”

“Tapi kadang lucu juga, sih, mendengar Bapak tiap hari mengancam hantu-hantu.”

“Ya, memang. Nanti kau juga selucu itu kalau sudah pikun.”

Melda mengerjakan perintah; alat-alat sihir kini selalu rapi di tempatnya dan mudah ditemukan. Suami Rina, dengan wibawa seorang bekas kepala personalia pabrik pakan ternak, memberi petuah bahwa hantu-hantu memang harus diancam agar tidak bertingkah keterlaluan. “Kita akan disangka lemah jika diam saja dan mereka makin kurang ajar,” katanya.

Beberapa saat situasi tenang tanpa omelan tentang hantu-hantu, beberapa saat sesudahnya lelaki itu kumat lagi dan mengoceh soal ketukan di pintu kamar tiap tengah malam, yang mulai ia dengar pada malam Jumat bulan lalu sehabis ia memainkan lagi papan ouija yang sudah berbulan-bulan ia lupakan. “Ia mengetuk pelan, sangat pelan, seperti takut membangunkan orang,” katanya. “Tapi aku bangun dan membuka pintu, ternyata tidak ada siapa-siapa.”

Rina ingin memberi tahu suaminya bahwa itu hanya khayalannya sendiri. Tidak mungkin lelaki itu bisa mendengar suara ketukan yang sangat pelan, sementara suara sekeras apa pun ia nyaris tidak bisa mendengar. Setiap kali menyampaikan sesuatu kepada suaminya, Rina harus berteriak keras, seperti orang membentak-bentak, baru lelaki itu akan mendengar suaranya sayup-sayup.

Itu cara bercakap-cakap yang melelahkan, selain ia sendiri tak sampai hati berbicara secara begitu kepada suaminya. Karena itu paling-paling Rina lebih banyak diam saat mendengar suaminya mengomel—tentang apa pun. Lelaki itu sebetulnya belum begitu tua, baru 63, tetapi kondisinya cepat merosot sejak memasuki masa pensiun.

Puncak keberisikan suaminya terjadi tadi pagi. Sejak bangun tidur lelaki itu ribut menyuruh Rina pergi secepatnya dari rumah dan jangan pulang sebelum pukul sembilan malam. “Ia akan datang hari ini, menemuimu di rumah ini, dan membawamu pergi selamanya,” kata suaminya. “Aku akan menghadapinya, tetapi kau tidak boleh ada di rumah saat aku bertarung dengannya.”

Rina akhirnya menuruti perintah itu karena suaminya tak henti-henti menyuruhnya pergi. Dan ia harus pergi sendirian. Mereka hanya berdua di rumah, bertiga dengan Melda, dua anak mereka sudah menjalani hidup mereka sendiri-sendiri, yang besar di Malang, yang kecil di Denpasar.

Pukul satu Rina sudah siap berangkat. Ia memilih dandanan yang simpel saja: sweater abu-abu, celana panjang hitam, dan tas kulit coklat terang. Suaminya duduk bersila di kamar mempersiapkan pertempuran. Ia tampak tekun sekali dengan pendulum, bola kristal, dan segala macam peralatan sihirnya.

“Apakah pakaian ini cocok untuk menghindari sergapan hantu?” tanyanya.

“Tidak,” kata suaminya. “Tidak ada yang bisa membawamu pergi selama aku masih hidup. Aku akan menjagamu dan mengusir dia, hari ini dan selamanya.”

Kepada Melda, Rina berpesan agar nanti malam saat mengunci pintu depan jangan lupa mencabut lagi kuncinya. “Tidak usah menunggui aku datang,” katanya, “Aku bawa kunci. Kalau nanti mau tidur dan aku belum pulang, tidur saja.” Lalu ia pergi menyetir sendiri ke pusat pertokoan yang paling ia ingat, yang letaknya paling dekat dari rumah. Ada waktu panjang sampai pukul sembilan malam, tanpa ia tahu harus melakukan apa selain keluar masuk toko, tanpa ia duga akan berjumpa dengan Ben.


PUSAT pertokoan ini selalu ramai, tetapi toko bukunya dari dulu sepi pengunjung. Di bagian seberang sana, ada tiga anak kecil sedang memainkan apa saja yang bisa mereka mainkan. Mereka berebut menggebuk drum, berebut memainkan piano elektrik, berebut mengayuh sepeda statis. Ben melihat arloji di tangan kirinya.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Rina.

“Tiga seperempat,” kata Ben. “Kau buru-buru?”

“Tidak,” kata Rina. “Eee..., sebetulnya ada teman ngajak ketemu di sini. Tapi mungkin tidak datang.”

Ada hal-hal pahit di antara mereka yang terjadi di masa lalu dan terus melekat di dalam ingatan, tetapi ada juga hal menyenangkan untuk dikenang. Bagaimanapun, mereka pernah saling mencintai. Ingatan tentang kepahitan membuat gerak tubuh mereka tampak kikuk dan percakapan di antara keduanya terasa seperti perjalanan mendaki di jalur setapak yang sulit ditempuh. Sebaliknya, ingatan tentang segala yang menyenangkan membuat Ben berupaya keras agar percakapan mereka bisa berlangsung lebih enak. Tetapi ia tidak tahu apakah Rina masih menyimpan ingatan tentang hal-hal menyenangkan yang pernah mereka alami bersama. Perempuan itu begitu membencinya dalam setahun terakhir rumah tangga mereka dan Ben tak mampu meyakinkan istrinya—bekas istrinya—bahwa ia sangat mencintai perempuan itu dan bahwa mereka berdua bisa memperbaiki situasi bersama-sama.

Mereka berpisah dan dua-duanya merasa sangat pahit dan sejak itu mereka tidak pernah saling berhubungan—demi alasan apa pun.

“Kau mau menemaniku makan, Rina? Sambil menunggu temanmu kalau ia jadi datang.”

“Aku sudah makan.”

“Oh, tidak apa-apa. Aku cuma....”

Ben tampak kesulitan. Rina menunggu.

“Sudah lama aku ingin minta maaf kepadanya. Ia perempuan pertama yang kucintai, dan aku tetap mencintainya, dan sekarang ia berdiri di depanku. Aku ingin tahu apakah ia mau memaafkan aku.”

“Untuk?”

“Semua ketololan yang kulakukan, yang membuatnya tidak bisa lagi mencintaiku.”

“Apa perlu membicarakan itu lagi sekarang, Ben?”

“Mungkin tidak perlu. Mungkin ia merasa tidak perlu, tapi aku merasa perlu.”

“Untuk apa?”

“Tidak untuk apa-apa, Rina. Jika ia tidak bisa memaafkan aku, itu juga tidak apa-apa. Tetapi aku merasa perlu minta maaf kepadanya. Ia cinta pertamaku, dan ia bersedia menjadi istriku, dan aku tak bisa--.”

“Ben, kau tahu aku memiliki suami?”

“Ya, aku tahu ia memiliki suami setelah berpisah denganku dan aku tak memiliki istri setelah berpisah dengannya.” Ben berhenti beberapa saat, menarik napas sampai dadanya penuh, mengarahkan pandangannya ke  samping kiri, ke lantai di bawah rak koran dan majalah, dan kemudian melanjutkan bicaranya seperti orang bergumam untuk diri sendiri. “Aku mencoba mencintai orang lain setelah kami berpisah, tak pernah bisa. Sembilan kali aku berpacaran dan semuanya berakhir sama. Ia selalu ada dalam pikiranku, menjadi orang ketiga yang membayangi setiap hubunganku, membuatku gagal mencintai siapa pun yang kupikir bisa kupinang sebagai istri.”

Rina membalikkan badan, meninggalkan Ben yang berbicara seperti orang melamun. Ben hanya memandanginya pergi. “Aku di sini sampai besok, Rina, seharian di tempat ini,” serunya. “Kuharap kita masih bisa bercakap-cakap lagi. Kau tidak perlu memaafkan aku jika tak bisa.”

Langkah Rina kian cepat. Ia tak tahan mendengar Ben bicara. Ia pernah sangat mencintai lelaki itu, dulu, dan ia tahu apa yang membuatnya jatuh cinta. Ia membayangkan rumah tangga bahagia ketika mereka menikah, dan itu tak terjadi.  Ia justru kehilangan rasa cintanya kepada lelaki itu dan ia tahu apa yang membuatnya kehilangan rasa cinta.

Ia terus berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, turun ke lantai satu, menyusuri deretan toko-toko, hampir menabrak perempuan muda yang baru keluar dari toko sepatu. Pukul berapa sekarang? Toko-toko tidak memasang jam dinding. Ia tidak pernah mengenakan jam tangan. Ketika ia tiba di pintu selatan pusat pertokoan itu, hari sudah sore tetapi langit masih cukup terang. Mungkin baru pukul lima dan itu berarti ia masih harus menunggu empat jam lagi untuk bisa pulang. Ia mengutuk hari sial yang harus dijalaninya. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa mau menuruti perintah orang pikun, pergi keluar rumah sampai pukul sembilan, tanpa rencana apa yang akan ia lakukan. Ia mengutuk pertemuannya dengan Ben dan benci kenapa bekas suaminya itu meminta maaf.

Dulu Ben tidak pernah meminta maaf. Lelaki itu seperti kanak-kanak yang congkak, seolah-olah ia akan mati seketika jika meminta maaf, dan sekarang ia melakukannya. Itu ucapan yang Rina ingin sekali mendengarnya keluar dari mulut Ben. Dulu. Kenapa baru sekarang, Ben, setelah terlambat tiga puluh tiga tahun, setelah semuanya tak mungkin dipulihkan lagi?

Lalu lintas mulai padat dan jalanan mulai macet, namun Rina memutuskan keluar dari pertokoan itu. Ben bisa menemukannya lagi jika ia masih di situ, lalu bicara lagi, lalu membuatnya tersiksa lagi.  Ketika hari petang dan jalanan makin macet, ia membelokkan mobilnya ke tempat parkir pusat pertokoan pertama yang ia jumpai dan tidak turun dari mobil. Pukul setengah sebelas ia keluar dari tempat parkir, menempuh jalanan yang masih agak macet, dan tiba di rumah hampir pukul dua belas.

Lampu ruang tamunya masih menyala. Rina membuka pintu depan dan mendapati suaminya tertidur di kursi ruang tamu. Lelaki itu mengenakan baju putih dengan lencana Nabi Sulaiman di dada kirinya, tangannya menggenggam pendulum, dan di atas meja terhampar seluruh peralatan sihirnya.

Rina membangunkannya tetapi suaminya hanya terbatuk kecil dan tidak membuka mata. Beberapa kali ia mengguncang-guncangkan tubuhnya. Lelaki itu tetap tidak terbangun. Rina kemudian masuk kamar, mengganti pakaian, membersihkan muka di kamar mandi, dan tidur—begitu lelap, seolah-olah tidak akan pernah bangun lagi.


KEESOKAN harinya mereka kembali bertemu, di tempat yang sama, pada jam yang kurang lebih sama, Ben masih mengenakan kemeja putih dan celana jins biru yang sama. Rina menemuinya setelah beberapa keanehan yang terjadi di rumah dan ia perlu teman bicara. Telinga suaminya sudah sepenuhnya tuli dan sekarang matanya pun buta. Melda juga begitu. Rina mencoba menghubungi anak-anaknya, tetapi telepon mereka tidak bisa dihubungi. Ke tetangga ia tidak mau. Tetangga sering bukan teman bicara yang tepat untuk urusan seperti ini, mereka nanti akan menjadikannya bahan gunjingan. “Pagi yang aneh, Ben,” katanya. “Rasanya seperti aku tidur bertahun-tahun dan ketika bangun semua orang sudah berubah.”

Ketika kemarin suaminya memaksanya pergi menghindari hantu, Rina pergi, tetapi bukan untuk menghindari hantu. Lelaki itu sudah agak pikun dan memang suka berkhayal tentang hantu-hantu. Kalaupun ia menuruti ucapannya, itu karena ia tidak ingin suaminya terus ribut seharian. Sekarang, menjumpai keadaan mereka seperti itu, Rina pikir mungkin suaminya benar kali ini. Lelaki itu sungguh-sungguh bertarung kemarin dan kalah dan si hantu membuat mereka menjadi begitu.

Rina tampak sedikit lega setelah menceritakan kejadian yang berlangsung di rumahnya.

“Urusanmu sudah selesai, Ben?”

“Ya.”

“Besok jadi pulang?”

“Tergantung kapan kau siap kubawa, Rina.”

“Aku punya suami, Ben. Kau sudah tahu aku punya suami.”

“Ya.”

“Dan aku tidak mungkin meninggalkan suamiku dan lari bersamamu.”

Ben memandangi wajah Rina, tidak bicara. Toko buku tetap sesepi hari kemarin. Seorang pegawai toko melintas di dekat mereka, berjongkok di depan rak, mengambil satu buku dan membawanya kepada satu orang yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Ben?”

“Ya.”

“Kau benar masih mencintaiku?”

“Itu sebabnya aku menjemputmu.”

“Tapi aku tidak mungkin meninggalkan suamiku, bagaimanapun keadaannya.”

“Ia tidak bisa melihatmu lagi, juga tidak bisa mendengar suaramu.”

“Seburuk apa pun keadaan suamiku saat ini.”

“Kalaupun ia baik-baik saja, seperti kaubilang kemarin, ia tetap tidak bisa melihat dan mendengarmu sekarang. Itu karena kau sudah mati, Rina. Sepanjang waktu aku berharap aku sendiri yang datang menjemputmu jika waktumu tiba. Karena itu aku datang menjemputmu sekarang.”

Rina menundukkan wajahnya, memeriksa dirinya sendiri, lalu mengangkat kembali wajahnya, memandangi Ben agak lama.

“Kau juga sudah mati, Ben?”

Tengah malam itu, ketika Rina pulang ke rumah sebelum pergi selamanya, ia mendapati suaminya tertidur di dalam kamar, dengan pendulum di dalam genggaman dan lencana Nabi Sulaiman di dada kiri. Kepalanya menelungkup di atas papan ouija. Ia mencium kepala lelaki itu, lembut sekali, seperti takut membangunkan tidur lelapnya.

“Aku pamit,” bisiknya di telinga kiri lelaki itu. “Kau bisa memanggilku jika ingin bertemu, bukan?”

Di pekarangan depan, Ben menunggu.[]

Popular Posts