Oleh: Faisal Fathur, 20 Desember 2014

Sekarang mau sok serius sedikit...

Apa yang membuat anda bisa tertegun, selain melihat sebuah keajaiban dan kejutan muncul secara bersamaan? Mungkin banyak, tapi sebenarnya hanya itu yang ingin saya bagi sedikit di sini. Pada awalnya, saya mengira tagline “cinta yang dungu dan hantu-hantu” dalam Murjangkung hanyalah sebuah murni metafora yang ingin A.S. Laksana sampaikan dalam buku kumpulan cerpen yang dibuatnya. Tapi nyatanya tebakan saya sungguh meleset. Kisah cinta yang ada di dalam kumpulan cerpen itu ternyata benar-benar dungu, bahkan bisa dibilang tidak wajar. Tidak wajar di sini bukan berarti cerita fantasi yang sering muncul pada imajinasi anak-anak kecil, tetapi lebih ke pemikiran cinta yang memang ada namun belum lazim bagi kita untuk tahu, atau mungkin percaya. Sehingga seperti yang saya bilang tadi, saya sempat tertegun saat melihat sebuah keanehan yang bisa diceritakan dengan begitu proporsionalnya. A.S. Laksana sangat peka dalam menentukan ide yang akan ia olah.

Cinta dalam Murjangkung dikemas dalam bentuk yang tidak lazim. Ia bisa-bisa saja membuat kejutan di akhir cerita tanpa sempat kita duga terlebih dahulu. Persis seperti keseharian kisah cinta kita yang penuh dengan kejutan. Anda tentu bisa-bisa saja mendapat kabar kalau kekasih kesayangan anda mendadak selingkuh dengan orang yang menurut anda sangat tidak pantas untuk dijadikan selingkuhan. Murjangkung menghadirkan kejutan itu dengan sangat apik, tidak mainstream kalau kata abege kebanyakan zaman sekarang, dan rasanya seperti tersentil ketika akhirnya mata saya sampai pada akhir halaman dari setiap kisah yang diuntainya. Seolah sebagai pembaca saya menjadi ikut-ikutan dibuat dungu oleh Murjangkung. Namun, dungu yang elegan tentunya.

Kedunguan itu semakin menjadi-jadi di otak saya saat "Dongeng Cinta yang Dungu" menghadirkan Fira, yang saat itu mau-tidak mau harus bertukar jasad dengan bosnya yang mendapat julukan si Belatung. Fira, yang menjadi sasaran cinta si Belatung (seolah) terpaksa jatuh cinta dengan bosnya karena sang bos tersebut sejatinya sedang memakai jasad dari Fira. Simpelnya, ruh mereka tertukar. Sebuah percintaan yang membingungkan, antara harus mencintai jasadnya sendiri atau mencintai seseorang yang berada dalam jasad tersebut. Kerumitan yang saya pikirkan itu ternyata mampu diolah A.S. Laksana dengan begitu natural, hingga pada akhirnya memunculkan sebuah pasangan yang memang terlihat seperti pasangan yang melakukan hubungan percintaan sebagaimana umumnya.

Adapun pada “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”, kembali diceritakan dengan begitu luwesnya salah satu teknik mendapatkan cinta yang tidak biasa, yaitu dengan cara pindah agama. Anda sebetulnya akan menjadi benar-benar dungu jika hanya mentok membaca review saya sampai sini saja. Di sana, Seto yang menjadi salah satu tokohnya menyodorkan kalimat yang dahulu sulit diungkapnya ketika dirinya masih satu agama dengan orang yang ia cinta. Namun, semuanya seolah menjadi mudah saat Seto berpindah agama.

“Anda cantik sekali. Sayang agama kita berbeda. Jika kita seiman, saya pasti sudah melamar anda dari dulu-dulu.”

Dengan begitu, Seto merasa lebih lega. Dirinya menjadi tidak perlu canggung menghadapi penolakan. Tentu benar-benar kedunguan brilian yang diciptakan oleh A.S. Laksana barusan. Kenapa saya bisa bilang kedunguan yang brilian? Sesungguhnya pada akhir cerita terdapat twist yang sempat menegaskan poin ‘tertegun’ dalam diri saya. Tetapi untuk menghindari kesan spoiler, lebih baik sampeyan-sampeyan ini baca saja supaya bisa ikut tertegun, atau bahkan menjadi dungu.

Selanjutnya pada “Bukan Ciuman Pertama” terdapat model plot yang hampir sama dengan cerpen yang saya singgung sebelumnya. Pada intinya, cerita ini sepele hanya membahas sebuah kejadian perselingkuhan. Yang di mana ini semakin menjengkelkan karena sang suami merasa istrinya selingkuh dengan orang yang sejatinya tidak pantas untuk dijadikan selingkuhan. Saya sungguh senang sekali membacanya, ternyata model perselingkuhan bisa terjadi dengan siapa saja dan bagaimanapun caranya. Saya kembali tertegun untuk sekian kalinya. Bahkan kali ini dengan sisipin tawa yang cukup menggelitik.

“Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar” merupakan cerita cinta yang akhirnya membuat saya benar-benar menjadi ‘dungu’. Anda pastinya pernah mendengar dalil di mana pada akhir zaman nanti akan muncul seorang budak yang melahirkan majikannya sendiri. Apa anda percaya A.S. Laksana menghadirkan suasana akhir zaman itu ke masa sekarang ini? Saya mulai lelah tertegun pada akhirnya. Sebuah fenomena besar tersebut mampu dihadirkannya dengan begitu alamiah. Hal ini juga membuat saya menjadi tahu bahwa hal-hal alamiah sejatinya tidak hanya muncul ketika saya mengamati metamorfosis pada serangga dulu, Murjangkung pun ternyata mampu menghadirkan yang demikian. Rasanya, setelah membaca ini anda setidaknya perlu memberi perhatian lebih kepada pembantu yang sedang bekerja di rumah. Mungkin bisa jadi orang tersebut adalah Ibu yang sebenarnya melahirkan anda. Mungkin-mungkin saja.

Ketika saya menutup cerita terakhir tersebut saya sempat menggerutu kenapa buku ini begitu cepat saya baca. Entah mengapa, namun di sini saya sebenarnya tidak perlu membahas atau memuji bagaimana cara A.S. Laksana dalam bertutur, membuka cerita, tentang karakter yang ia buat, bagaimana cara ia bisa menyusun plot-plot hebat dalam Murjangkung-nya itu. Bagi saya, barang tentu bisa memahami kedunguan cinta yang ada saja sudah merupakan apresiasi yang baik terhadap pribadi saya sendiri. Karena memang tidak perlu dipungkiri lagi, dalam urusan membuka cerita, mengurus karakter, plot, dialog, deskripsi, dan lain sebagainya, A.S. Laksana sudah menjadi salah satu maestronya.

Mengajak untuk ikut-ikutan dungu mungkin lebih tepat jika saya lakukan sekarang. Cerita cinta yang kompleks selalu bisa menjadikan kita lebih siap dalam menghadapi kenyataan cinta yang ada di depan. Pelajaran cinta yang pastinya tidak bisa kita temukan di buku-buku pelajaran eksak yang sebelumnya lebih sering kita jumpai. Hal ini semakin menegaskan bahwa cinta sejatinya merupakan urusan yang rumit. Bukan masalah sepele apalagi masalah yang sering kita anggap tidak terlalu perlu untuk dipikirkan. Jika dianggap sepele, siap-siap saja menjadi dungu dengan kehidupan cinta yang anda jalani nantinya.

"Aku menyaksikan paras dengki beberapa orang ketika melihat aku lahir dengan wajah cantik. Mungkin mereka berharap menyaksikan sesuatu yang menggemparkan di hari kelahiranku; kurasa mereka akan lebih suka jika aku lahir sebagai seekor kura-kura atau bajing. Hal itu akan membuat mereka makin gigih menggunjingkan dosa keluargaku. Sebetulnya ingin kukatakan kepada mereka, ‘Kalian tidak usah dengki.’" -Kutipan dari cerpen “Otobiografi Gloria” (A.S. Laksana) []

(Sumber: http://kresekkantong.blogspot.com/2014/12/cinta-yang-dungu-murjangkung-review.html)

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts