Oleh: Muhammad Bagus Irawan*), dimuat pertama kali di Sriwijaya Post

Murjangkung adalah tajuk buku kumpulan cerpen kedua A.S.Laksana setelah Bidadari yang Mengembara (buku sastra terbaik tahun 2004 versi Majalah Tempo).

Di dalam antologi ini terdapat dua puluh beraneka rasa cerpen yang menelikung pikiran pembaca, membawanya terbang ke lembah imajinasi. Cerita-cerita Laksana seamsal dongeng yang saban hari tersisih sebagai ihwal remeh temeh.

Tak pelak lagi, Murjangkung memiliki tema yang kuat yang bisa mengilhamkan teks-teks baru di kepala pembaca. Pada cerita pertama ’Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut’, dikisahkan seabrek data tentang Murjangkung, si manusia raksasa berkulit bayi, memimpin pendaratan di pantai bersama para pemabuk.

Ia membeli dari Sang Pengeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai. Di sana, ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal dan menghiasi dinding pagarnya dengan pucuk-pucuk meriam.

Di tahun berikutnya, Murjangkung mulai memancing keributan atas tanah yang ditempatinya. Ia mengarahkan pucuk-pucuk meriamnya ke istana kayu Pangeran. Putus asa menghadapi raksasa bayi yang ternyata tidak selucu dugaannya, Pangeran sontak murung dan marah.

Untung saja, tidak lama kemudian ada rombongan pemabuk berikut yang singgah di pantainya. Sang Pangeran menyerahkan tanah di tepi barat sungai dengan niatan menyaingi Murjangkung. Mereka juga membangun gedong yang persis dengan gedong Murjangkung. Keduanya yang saling berhadapan itu sama-sama suka berpesta dan saling lempar caci-maki.

Walhasil, Murjangkung terbakar emosi dan menyulut api pertempuran. Seketika itu, Murjangkung menyerukan komando, “Tembakkan meriam!.”

Singkat cerita, Murjangkung akhirnya menang dan jadi penguasa di kota baru yang ia dirikan. Ia berkuasa penuh atas kehidupan kota yang berjalan tertib dan tenang. Ia menjinakkan orang-orang di luar pagar dengan ketegasan gembala pemuja kemurnian ras. “Keledai harus dikumpulkan dengan keledai,” katanya.

Nahasnya, Murjangkung gugur karena sebuah kakus. Ia mati karena terserang cacingan dan disentri. (hlm.10-12). Sekilas apabila dicermati, narasi dalam cerpen pembuka diilhami dari asal mula Lapangan Banteng.

Selanjutnya, ‘Otobiografi Gloria’. Dikisahkan, Gloria adalah bayi yang hanya sempat menghirup oksigen di dunia dalam waktu sekejap. Nenek dan kakeknya sangat rindu hadirnya bayi dan terobsesi ingin memiliki cucu, hingga mendatangi tempat keramat.

Paman Gloria adalah bujang lapuk, dan hidup membujang hingga ia mati. Bibi Gloria tidak dikaruniai anak walau sudah menikah cukup lama, dan ibu Gloria , satu-satunya yang bisa memberikan cucu pada kakek nenek Gloria, hamil tanpa suami. Beralih ke judul ‘Dongeng Cinta yang Dungu’.

Cerpen tentang body swap yang mampu menggelikan pembaca. Di mana, diceritakan tentang ruh Fira yang hidup dalam tubuh bosnya Si Belatung dan ruh Si Belatung yang hidup dalam tubuh Fira. Senyampang itu, entah apa yang dilakukan si belatung.

“Burung itu memekik sejak pagi dan si belatung datang siang hari, membuyarkan segala yang telah direncanakan oleh Fira dua hari sebelumnya. Gadis itu merasakan kulit kepalanya seperti mau mengelupas dan otaknya mengeras seketika.”

Mungkin ia mencampur sesuatu yang sudah diberi mantra ke dalam minuman Fira hingga terjadi penukaran tubuh.

Praktis, di samping sepenggal ulasan tiga cerpen tadi, masih menyisakkan 17 cerpen lainnya yang tak terduga.

Membaca Murjangkung menohokkan pembingkaian khas A.S.Laksana. Lanskap cerita menyuguhkan beragam sensasi rasa: penokohan, dialog, deskripsi, latar, alur dan ending tak tentu; kadang komikal, sporadis, kromatis, atau impresi lainnya.

Beragam rasa itu memiliki ikhtiar dan pesan yang begitu menyentuh, bermuatan ajaran kebaikan dan moralitas. Lebih dari itu, Murjangkung juga membawa kita menahbiskan pesona suara ibu atau ayah saat mereka mendongeng untuk kita malam-malam sebelum tidur. Selamat membaca.

Judul : Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu
Penulis : A.S. Laksana
Penerbit : GagasMedia, Jakarta
Tahun : 2013
Tebal : viii+214 halaman
Harga : Rp49.000,

*) Muhammad Bagus Irawan, penikmat buku sastra asal Jepara

(Sumber: Sriwijaya Post Selasa, 10 September 2013)

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts