"Seorang koruptor menyibukkan pikiran setiap hari untuk mendapatkan gagasan 
tentang apa saja yang bisa diganyang. Seorang penulis menyibukkan pikiran setiap hari 
untuk mendapatkan gagasan tentang apa yang menarik ditulis."

Kali ini admin mengajak pembaca untuk blog walking ke akun twitter AS Laksana. Jika kamu sering membaca-baca artikel tips menulis di internet, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah blog-walking. Ya, kita jalan-jalan menyambangi “lapak” orang lain mencari inspirasi menulis sembari meninggalkan jejak untuk membangun jejaring di dunia maya ini. Kalau kucing meninggalkan kencing untuk menandai daerah kekuasaannya, maka penulis blog meninggalkan “sampah” untuk membangun hubungan silaturahminya.

Dari hasil blog-walking kali ini, Portal Berita Buku menyajikan wawancara imajiner dengan AS Laksana. Kenapa AS Laksana? Sebab, coba lihat kembali judul artikel ini, bacalah karya-karya terbaik dari penulis terbaik. AS Laksana jelas salah satu penulis terbaik. Sebagai bahan gosip, kumpulan cerpennya -Murjangkung, yang belum terpilih sebagai prosa terbaik versi Khatulistiwa Literary Award, baru saja terpilih sebagai prosa terbaik versi Tempo.

Langsung kita simak wawancara dengan AS Laksana.

Menurut Anda, siapakah tokoh-tokoh sastra yang paling berpengaruh di Indonesia?
Tokoh sastra paling berpengaruh bagi sastra Indonesia menurut saya antara lain Camus, Hemingway, Kafka, Kundera, Borges, Garcia Marquez, Murakami.

Jadi, menurut Anda buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh itu kurang tepat?
Sebenarnya saya tak peduli siapa tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Namun tentu saya marah jika ada manipulasi. Saya sendiri lebih banyak baca fiksi karya penulis luar negeri, versi terjemahan. Mula-mula dongeng HC Andersen, Grimm, dan lain-lain. Lalu petualangan Karl May versi Pradnya Paramita. Lalu para detektif Sherlock Holmes dan Hercule Poirot. Lalu novel-novel terjemahan Pustaka Jaya. Cerita-cerita dari kitab suci juga saya sukai ketika kanak-kanak. Dan itu semua juga cerita dari luar negeri. Baru ketika SMA saya agak banyak membaca karya penulis Indonesia. Saya menyukai cerpen-cerpen awal Umar Kayam dan Budi Darma.

Baik. Persoalannya, bagaimana menulis sastra sebaik mereka?
Jika “sastra” adalah sebuah genre, maka bisa saja seseorang menulis karya sastra tapi mutunya buruk sekali. Jika “sastra” merujuk pada mutu, maka setiap yang disebut karya sastra pasti mutu penulisannya bagus.

Untuk menghasilkan “sastra” yang merujuk pada mutu?
Seorang koruptor menyibukkan pikiran setiap hari untuk mendapatkan gagasan tentang apa saja yang bisa diganyang. Seorang penulis menyibukkan pikiran setiap hari untuk mendapatkan gagasan tentang apa yang menarik ditulis. Adapun tiap pecundang menyibukkan pikiran dengan kemalangannya terus-menerus. Ia bahkan tak berpikir bisa menang.

Contoh yang Anda lakukan?
Ketika serius belajar menulis, saya memilih baca karya-karya yang saya anggap terbaik. Kebanyakan, kalau bukan semuanya, dari luar negeri. Membaca, bagi saya, adalah mempelajari craftmanship orang-orang lain--para penulis terbaik menurut saya itu. Saya pikir kita membutuhkan kecakapan dan teknik-teknik terbaik untuk mengolah materi yang ada di sekitar kita.

*)Craftmanship: merujuk kamus Cambridge, berarti keterampilan untuk menghasilkan sesuatu (produk seni, seperti keterampilan melukis, menulis, memahat dan mengukir)

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts