Oleh: Arif Bagus Prasetyo

"Pengarang A.S.Laksana meluncurkan kumpulan cerpen kedua. Pendongeng yang mahir meramu humor dan tragedi."


MURJANGKUNG: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu (selanjutnya disingkat Murjangkung) adalah buku kumpulan cerita pendek kedua karya A.S. Laksana, salah satu pengarang paling menonjol di Indonesia kontemporer. Buku kumpulan cerpen pertamanya, Bidadari yang Mengembara, terbit pada 2004 dan dipilih majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik tahun itu. Karya fiksi Iain oleh mantan wartawan yang juga penekun Ericksonian Hypnosis ini disiarkan dalam bentuk cerita bersambung di koran: Ular di Tapak Tangan dan Medan Perang. Selain menulis karya fiksi, Laksana menulis kolom, karya nonfiksi, dan terjemahan.

Murjangkung berisi 20 cerpen. Salah satunya, ”Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis”, masuk jaiaran 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009 versi Anugerah Sastra Pena Kencana. Sebagaimana ”Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis”, cerpen-cerpen lain dalam Murjangkung kembali memperagakan kepiawaian Laksana sebagai pendongeng yang mahir meramu humor dan tragedi, memadukan sikap serius dan main-main, mengocok nalar dan kegilaan, memadukan keajaiban dan keremehan, mengacluk kenyataan dan khayalan, Walhasil, tergelarlah sederet kisah yang tidak hanya amat menghibur, tapi juga memercikkan bunga api pemikiran kritis. Renyah, tapi tetap mendalam.

Prinsip kreatif Laksana ketika menulis cerita diisyaratkan dalam cerpen ”Cerita untuk Anak-anakmu”. Di sela-sela narasi berbau gosip infotainmen perihal retaknya rumah tangga seorang biduanita dangdut bersosok ”perpaduan antara mahasiswa teladan dan penari sirkus oriental” dengan lelaki anggota DPR ”yang kalem dan tampan meski ada bekas-bekas cacar air di wajahnya”, narator cerita ini sempat menyitir kiat populer buku-buku teknik menulis bahwa ”apa saja bisa ditulis” dan ”gagasan untuk sebuah cerita bisa berasal dari mana pun”. Lalu ”urusan selanjutnya adalah bagaimana menggerakkan cerita”. Sebab, ”gagasan yang klise pun, konon, akan menjadi cerita yang menarik jika diolah secara baik”.

Cerpen-cerpen dalam Murjangkung seakan-akan membuktikan tesis kreatif personal pengarangnya bahwa yang terpenting dalam menulis cerita bukanlah isi ceritanya itu sendiri, melainkan Cara menceritakannya. Pesona cerita tidak ditentukan oleh apa kisahnya, tapi bagaimana kisah itu dituturkan.

Dengan gaya ungkap yang ringan dan lincah tapi bertenaga dan terjaga bahasanya, Laksana memetik dan mengolah gagasan cerita dari mana saja: riwayat konyol penguasa kolonial, drama asmara cengeng, anak haram, perselingkuhan suami-istri, aib syahwat wakil rakyat, hubungan gelap antara majikan dan pembantu rumah tangga, keyakinan beragama, kemiskinan, banci, tsunami, dan sebagainya. Ia mengutip, menyindir, meledek, mengembangkan, menyelewengkan, atau menjungkirbalikkan sejarah klasik (kolonialisme) dan mitos lama (kisah nabi-nabi, cerita rakyat, reinkarnasi, legenda, klenik) ataupun sejarah kontemporer (pembantaian preman era Orde Baru 1980-an, militerisme) dan mitos modern (buku motivasi, kejamnya ibu tiri, spekulasi ilmiah, teknologi informasi, spiritualitas ala new age).

Murjangkung menyuguhkan sehimpun cerita yang ajaib, edan, bahkan konyol jika ditilik dari kacamata hukum realitas faktual, tapi pada umumnya tetap terasa wajar dan masuk akal dalam perspektif dunia fiksional yang dibangun pengarangnya. Berbekal kekuatan imajinasi dan daya nalar kritis, Laksana menggerakkan cerita agar gagasan seklise apa pun tak menjadi kisah klise, supaya komedi tak berhenti sebatas lelucon, dan tragedi tak sekadar mengumbar keharuan. Di tangannya, klise tak lagi membosankan karena selalu menyentilkan kejutan segar, humor tak jatuh menjadi banyolan dangkal karena senantiasa menyisakan gaung renungan.

Humor yang pekat, menyengat, cenderung gelap, dan sinis merupakan unsur penting dari gaya literer khas dan unik karya fiksi Laksana. Dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer, kekuatan dan mutu humor dalam fiksi Laksana barangkali hanya dapat diimbangi oleh puisi joko Pinurbo. Humor Laksana dilandasi pikiran kritis. Itu sebabnya, kelucuan cerpen-cerpennya sering muncul dari komentar tentang suatu keadaan atau kejadian yang disuarakan oleh narator atau tokoh cerita.

Sekadar contoh, pembaca tentu mudah tersenyum-senyum sendiri membaca penggalan cerpen ”Bukan Ciuman Pertama” berikut ini: Aka sudah membaca buku tentang bagaimana menjadikan diri kita magnet uang.]adi kau tidakperlu berpayah-payah memburu ke mana perginya uang; uang itu sendirilah yang akan mengubermu tanpa kenal letih ke mana kau pergi. [...] “Jadikan diri anda magnet uang sekarang juga.” Ajakan di sampul belakang itu sangat menyenangkan untuk dibaca berulang-ulang. Tentu saja aku menyambut baik ajakan tersebut. Sampai buku itu dicetak ulang empat kali, tidak ada kabar bahwa penulisnya diperiksa di kantor polisi karena menjual resep gadungan. Sudah kujalani segala cara yang dinasihatkan oleh buku itu, tetapi segala sesuatu membutuhkan bahan yang baik dan tubuhku mungkin bukan bahan yang baik untuk dyadikan magnet. Daging, tulang-belulang, dan penampilanku tetap tidak bisa memikat segerombolan uang untuk berebut datang kepadaku.

Namun gairah berhumor yang meluap-luap sesekali terasa mengganggu juga. Dalam cerpen ”Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut”, misalnya, ada informasi bahwa ”mereka datang 243 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus”. Cerita mengisyaratkan bahwa ”mereka” adalah para pelaut-pedagang bule kolonial yang dipimpin oleh Tuan Murjangkung, ”raksasa berkulit bayi” yang ”bertabiat kaku dan taat ke gereja”. jadi, ”mereka” mungkin orang-orang Kristen Calvinis Belanda yang dulu datang mengibarkan panji Kompeni di bumi Nusantara. ”Mereka” digambarkan memiliki meriam.

Andaipun ada data historis yang mendukung, tidakkah berlebihan menyuruh pembaca membayangkan bahwa bangsa Belanda baru menemukan kakus berabad-abad setelah penemuan meriam?

Kehadiran narator, semacam dalang penutur cerita, secara mencolok dalam sejumlah cerpen kadang juga terasa seperti dipaksakan. Dalam cerpen ”Seorang Lelaki Telungkup di kuburan”, jalinan cerita tetap sepenuhnya utuh seandainya pengarang menghapus kehadiran narator yang hanya muncul pada paragraf pertama. Di pengujung cerpen ”Ibu Tiri Bergigi Emas”, sang narator ”aku” yang mahatahu, setelah meriwayatkan kehidupan keluarga Alit secara rinci, tahu-tahu justru mengaku tidak tahu tentang perkara penting yang membelit hubungan antara Alit, ayahnya, dan ibu tirinya.

Kumpulan cerpen Murjangkung dapat dipandang sebagai ikhtiar Laksana untuk menulis ”sejarah hantu”. Bukan dalam arti ”sejarah tentang hantu”, melainkan ”sejarah yang seperti hantu”. Hampir semua cerpen dalam Murjangkung bersentuhan dengan daerah abu-abu antara sejarah dan mitos. Ada banyak alusi dan asosiasi terhadap kisah nabi-nabi, misalnya. Bagi kaum beriman, semua kisah nabi adalah sejarah. Namun, bagi kaum skeptis, sebagian kisah nabi hanyalah mitos, karena kebenarannya tidak dapat dibuktikan, sebagaimana hantu. Cerpen-cerpen Laksana membeberkan hakikat ”kehantuan” sejarah dengan Cara, di satu sisi, menyelundupkan mitos ke dalam tenunan riwayat ”historis” para tokoh tiksinya; dan di sisi lain, menyoroti data historis dengan cahaya ”mitologis” dari cerita yang melampaui kenyataan. Murjangkung mewartakan kemustahilan mendapatkan kebenaran tentang masa silam.

(Sumber: Sumber: Tempo, 5 Mei 2013)

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts