Oleh: A.S. Laksana

"The Catcher in the Rye secara akurat menampilkan suara dan psikologi 
anak-anak remaja pada masa transisi--suara dari mereka yang sudah merasa diri 
bukan remaja lagi namun oleh orang-orang dewasa masih disepelekan 
dan tetap dianggap masih 'bau kencur'."

Saya mengenal nama Salinger belum lama. Maksud saya, ia termasuk orang baru bagi saya dibandingkan dengan Hemingway, John Steinbeck, Anton Chekov, Albert Camus, Kawabata, dan sebagainya yang sudah lebih dulu masuk ke Indonesia dan saya baca karya-karyanya pada waktu itu melalui terjemahan yang diterbitkan Pustaka Jaya.

Salinger saya dengar pertama kali dari obrolan dengan seorang teman, tetapi hanya samar-samar. Sosok pengarang yang tak pernah mau muncul di muka publik ini menjadi lebih jelas di benak saya pada saat saya bertemu Pak Kayam (Umar Kayam) untuk sebuah wawancara. Menilik gaya bercerita Pak Kayam pada cerrpen-cerpennya, saya menduga bahwa ia pengagum Hemingway, setidaknya menurut saya begitu, dan saya menanyakan langsung kepadanya dugaan saya itu. Tapi, ia mengakui bahwa pengarang kesukaannya adalah J.D. Salinger. Menurutnya, Salinger bercerita dengan cara yang enak dan lancar dan ketika membaca ceritanya kita akan merasa seperti mendengar celoteh teman dekat kita sendiri.

Saya mengagumi Pak Kayam sebagai salah satu penulis fiksi terbaik kita. Dan setelah percakapan itu saya tergerak untuk membaca pengarang yang ia kagumi. Maka saya mencari buku-bukunya dan menemukan The Catcher in The Rye dan Franny and Zooey di kios buku loak langganan saya. Saya membaca Salinger sambil teringat Pak Kayam, yang meninggal dua bulan setelah menyediakan waktu untuk saya wawancarai.

***

Sampai hari ini The Catcher in The Rye masih menunjukkan statistik yang mengagumkan: dalam artikel di Washington Post tahun 2004, saya mendapatkan informasi bahwa pada tahun itu novel yang terbit pertama tahun 1951 ini masih terjual lebih dari 250 ribu kopi dengan harga normal; artinya terlalu mahal untuk buku yang sudah dicetak ulang sampai 42 kali. Konon, sampai saat ini total eksemplar yang terjual sudah di atas 10 juta kopi.

Itu fakta yang tidak begitu mengherankan mengingat novel pertama Salinger ini adalah favorit para guru SMA di Amerika dan setiap tahun selalu masuk daftar buku wajib baca bagi para siswa. Dengan tokoh utama seorang remaja menjelang dewasa, yang bersuara sengit tentang apa saja di sekitarnya, The Catcher in the Rye secara akurat menampilkan suara dan psikologi anak-anak remaja pada masa transisi--suara dari mereka yang sudah merasa diri bukan remaja lagi namun oleh orang-orang dewasa masih disepelekan dan tetap dianggap masih "bau kencur". Maka, kita diajak memahami segala sesuatu dari pandangan dunia Holden Caulfield, tokoh utama cerita ini, diajak melihat situasi menyedihkan di Amerika pada pertengahan abad ke-20, orang-orang dewasanya, remajanya, adat-istiadatnya, dan sikap-sikap egoistis yang berkembang di dalam masyarakat. Dan sampai sekarang ia tetap menjadi buku yang direkomendasikan oleh para guru karena suara sengit dan psikologi Holden Caulfield masih tetap mewakili suara dan psikologi para remaja seumurannya.

Plot novel ini sederhana, dengan setting tak lama setelah berakhirnya perang dunia II, dengan banyak karakter yang tidak semuanya muncul dalam cerita, tetapi hanya kita tahu melalui penuturan Holden. Dan seperti yang dikatakan oleh Pak Kayam, Salinger—melalui Holden—memang rasanya seperti teman dekat yang membawa kita hanyut dalam gaya lanturan yang dipakainya. Ia mampu menyajikan detail segar tentang apa saja tanpa kita menjadi bosan. Terutama karena Holden mencaci atau menilai buruk apa saja dengan cara yang tajam dan cerdas.

Novel dibuka dengan salam perpisahannya saat Holden dikeluarkan dari sekolah. Dalam persiapan meninggalkan sekolahnya, secara tajam ia mengomentari kebejatan teman-temannya dan perilaku “lancung” mereka. Ia sendiri tidak bisa menyampaikan kepada para guru perasaan tersisih yang ia rasakan dan biasanya ia membelokkan percakapan dan memilih berbohong kepada para guru, dengan menyampaikan hal-hal yang ingin mereka dengar.

Ia menumpang kereta pulang ke New York dan berdusta lagi kepada orang-orang dewasa untuk menutupi alasannya keluar dari sekolah. Di New York, di mana orang tuanya tidak menghendaki kedatangannya, ia menyewa kamar hotel dan dari tempat ini petualangannya dimulai. Ia masuk ke bar, mengundang pelacur ke kamar, membuat kencan dengan teman lamanya, Sally Hayes, dan pertemuan itu berakhir dengan pertengkaran ketika ia meminta Sally lari bersamanya di belantara Vermont, dan sebagainya.

Setelah mengantar Sally pulang, Holden pergi ke gedung bioskop, dan kemudian singgah sejenak untuk minum di sebuah hotel bersama teman lama yang memperlakukannya secara buruk karena ia dianggap tidak dewasa secara sosial maupun seksual. Holden akhirnya mengendap-endap ke apartemen orang tuanya dan membangunkan adiknya Phoebe. Percakapan panjangnya dengan Phoebe ini memberikan kita informasi tentang sebagian motif Holden untuk menarik diri, juga mengungkap banyak hal tentang kepribadiannya, terutama kecintaannya pada kepolosan anak-anak dan hasratnya untuk menyelamatkan mereka dan penderitaan dan kebejatan pergaulan sosial orang dewasa. Kemudian, karena dorongan yang muncul tiba-tiba, ia menemui guru kesayangannya Mr Antolini. Di sinilah Holden mendapatkan pengalaman yang ia tafsirkan sebagai tanda-tanda homoseksualitas.

Petualangan-petualangan yang dialami Holden ini, dan caranya memandang kenyataan, dalam skala tertentu mengingatkan kita pada karya besar yang abadi hingga sekarang: Don Quixote karya Cervantes. Sebagaimana Don Kisot, Holden juga seorang pembaca buku-buku dan ia menceritakan buku-buku yang dibacanya dengan tuturan yang menyenangkan.

Sepanjang cerita ia mencela hampir semua orang, baik orang dewasa maupun teman-teman seumurannya. Baginya orang dewasa adalah dunia yang busuk, palsu, dan munafik. Sekolah yang dibanggakan banyak orang tua, dan memuji diri sendiri melalui iklan besar yang dipasangnya, baginya juga sesuatu yang palsu.

Tak ada yang menarik di sekolahnya. Kawan-kawan Holden seperti Stradlater dan Ackley di Pencey, dan Luce dari Whooton School, hadir dalam cerita sebagai simbol bagi anak-anak muda dari keluarga kaya, yang kelak mewarisi Amerika dari generasi orang tua mereka. Namun bagi Holden mereka adalah orang-orang yang tak terpelajar sama sekali.

Bagi Holden hanya ada satu dunia yang ia percaya, yakni dunia polos anak-anak. Di sana ada kesetiaan satu sama lain, di sana ada kemurnian spiritual. Sesungguhnya ini konklusi yang klise, tetapi amat mudah disepakati oleh mereka yang sama kecewanya dengan Holden terhadap masyarakat dan dunia di sekeliling mereka. Mungkin karena inilah Holden lambat laun dianggap mewakili dunia yang murni, dan ia memberi inspirasi kepada orang-orang tertentu untuk menyucikan dunia.[]

*) Versi Indonesia The Catcher in The Rye, dengan terjemahan yang baik, diterbitkan oleh Penerbit Banana, Jakarta. Tulisan ini adalah pengantar diskusi novel tersebut yang diselenggarakan di Fakultas Psikologi UI.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts