Oleh: Benny Arnas

BAGAIMANA cerpen yang baik itu?

Banyak sekali jawaban untuk pertanyaan ini. Sejumlah buku tentang cerpen yang ditulis cerpenis yang cukup dikenal khalayak sastra, menyebutkan bahwa karakter tokoh yang kuat, deskripsi yang detail, dan ending yang mengejutkan, adalah tiga hal yang sangat memengaruhi kualitas cerpen. Jawaban itu sangat klise tapi paling banyak ditemukan di buku-buku jurus menulis cerpen.  Namun, Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu, buku yang berisi dua puluh cerpen karya A.S. Laksana ini  sepertinya tak sependapat (apabila tak ingin dikatakan “menyangkal”) dengan para penulis buku sakti menulis cerpen itu.

Tokoh-tokoh dalam Murjangkung dihadir-kembangkan dalam porsi yang seimbang dengan unsur cerpen lainnya: deskripsi, plot, dan ending. Lazimnya cerpen, tokoh di dalamnya, kerap menjajah unsur-unsur yang lain: tokoh menjadi sangat kuat karena mendominasi pergerakan cerita, apalagi tokoh yang secara sadar diposisikan penulis sebagai penyampai buah pikirannya. Tokoh-tokoh dalam Murjangkung dibiarkan berkelindan dalam cerita dengan deskripsi dan dialog yang sewajarnya, seperti dalam kutipan pendek ini:

Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari sang pangeran tanah enam ribu meter persegi di  tepi timur sungai. ("Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut", hlm. 10). Narasi dalam cerpen  pembuka yang bercerita tentang asal mula Lapangan Banteng ini dibiarkan berdiri sendiri apa adanya. Tidak ada penjelasan mengapa Murjangkung berkulit bayi, mengapa ia membeli tanah seluas enam ribu meter persegi, atau bahkan mengapa namanya harus Murjangkung. Dan ini poinnya: pembaca memang dibuat merasa tak perlu menanyakannya karena narasi ini dibangun untuk mengenalkan tokoh, bukan mendeskripsikannya, apalagi menulis biografi fiksinya.

Atau pada dialog berikut:

“Kau tahu apa soal itu?” hardik Suhartini.

“Tentu saja aku tak tahu apa-apa,” kata Pramono. “Begitu kan, Yah? Aku tak tahu sama sekali, ‘kan?”

("Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri", hlm. 52)

Saya dapat membayangkan, dialog ini akan dideskripsikan lebih panjang oleh pengarang lain, mungkin termasuk saya, menjadi begini:

“Kau tahu apa soal itu?” hardik Suhartini dengan mata mendelik.

“Tentu saja aku tak tahu apa-apa,” kata Pramono sembari mengulum senyum. “Begitu kan, Yah? Aku tak tahu sama sekali, ‘kan?” Ia mengerling pada ayahnya sebelum berlalu.

Cerpen-cerpen dalam Mujangkung tak berpretensi untuk genit dan kaya aksesori. Murjangkung tidak berniat menjadi film dalam teks. Murjangkung ingin mengatakan bahwa: teks fiksi sebaiknya membuka kran imajinasi para pembaca untuk memiliki dunia dan atmosfer cerita yang khas, sesuai dengan warna yang ia hadirkan dalam kanvas pembacaannya yang murni. Murjangkung (hanya) menawarkan tema, konflik, dan tokoh-tokoh sebagai gerbang imajinasi dalam kerangka yang sumir, termasuk dialog-dialog yang dibangunnya.

Dalam kumpulan ini, cerpen yang paling membuat saya berbahagia membacanya adalah "Dongeng Cinta yang Dungu". Cerpen yang bercerita tentang ruh Fira yang hidup dalam tubuh bosnya Si Belatung dan ruh Si Belatung yang hidup dalam tubuh Fira. Cerpen ini menegaskan posisinya yang bukan hanya kumpulan cerita pendek, melainkan buku menulis cerita pendek dengan jurus-jurus yang lebur dalam setiap cerpennya. Tentu saja pendapat saya ini pun jadi klise apabila tak saya imbuhkan: Murjangkung tak mengajari Anda untuk bertanggungjawab dengan segala hal dan merk yang melekat pada tokohnya, Murjangkung pun tak berniat menjelas-jelaskan seolah Anda sedang nonton film (karena ini teks!), dan ini yang bagi saya manis sekali: ending setiap cerita tak mesti merupakan mata rantai yang hilang lalu baru ditemukan pada pengujung, karena sebagai karya fiksi, Murjangkung memiliki hak prerogatif untuk bercerita dan mengakhirinya.

Anda bisa saja mendapati ending yang sepertinya membuat cerita tak padu, gumpil, atau ngawur. Namun yang lebih penting dari itu adalah, bagaimana genuine-frame dari sebuah cerita justru menyuguhkan pembaca beragam sensasi: tokoh-tokoh, dialog, deskripsi, dan ending yang kadang komikal, sporadis, kromatis, atau impresi lainnya. Beragam sensasi itu tak harus dipertanyakan karena memang Murjangkung berhasil menampikannya sesuai dengan dunia bacaan yang penuh dengan kemungkinan.

Jadi, bagaimana cerpen yang baik itu?

A.S.  Laksana tidak menjawabnya. Ia hanya membisiki saya: Hidup bukan cerita pendek—pun sebaliknya, jadi tak ada sebab-akibat yang harus diakhiri, apalagi ditutup dengan hamdalah yang menandakan kisah selesai. Bisikan itu selalu berhasil menabuh gendang telinga ketika saya sedang membaca Murjangkung-nya. Saya pikir, sebaiknya Anda juga mendengar bisikannya. Siapa tahu, justru ia membisiki hal yang berbeda dari apa yang saya dapatkan. []

Benny Arnas
lebih banyak menulis cerpen, tinggal di Lubuklinggau.

(Sumber: Jawa Pos, Minggu, 31 Maret 2013)

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts