Sumber: Edisi Khusus Majalah Tempo, Desember 2004

"Ceritanya selalu mengandung sikap kritis terhadap bentuk cerita itu sendiri. 
Pembaca akan terbawa oleh aliran cerita, namun pada akhirnya ia akan tersadar 
akan muslihat sang narator."

Buku kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, telah mengembalikan kekuatan seni bercerita. Kepiawaian ini didapatnya dari sejumlah penulis favoritnya seperti Milan Kundera, John Steinbeck, Gabriel Garcia Marquez, dan Jaroslav Hasek. "Cerita mereka enak dibaca, lucu, segar, tanpa menjadi konyol. Lantas saya ingin membuat seperti itu," ujar A.S. Laksana.

Pada 12 cerita pendek Laksana, kita menikmati bahasanya yang tersusun ketat dan tak berniat menjelas-jelaskan, tapi begitu kaya dengan perincian situasi dan peristiwa. Ia berhasil mengambil alih humor dan kelisanan ke dalam tulisan. Ceritanya selalu mengandung sikap kritis terhadap bentuk cerita itu sendiri. Pembaca akan terbawa oleh aliran cerita, namun pada akhirnya ia akan tersadar akan muslihat sang narator.

Cerita pendek memang bentuk yang lama ditekuninya sejak kecil. Lelaki kelahiran Semarang, 25 Desember 1968, ini sudah mengirim karyanya ke media massa sejak Sekolah Dasar. "Namun tak pernah dimuat," ujar Laksana yang tumbuh dengan buku-buku petualangan Karl May, S.H. Mintardja, dan Ernest Hemingway ini.

Cerita pendek pertamanya yang dimuat berjudul "Suara-suara" di harian Kartika, ketika Laksana masih kelas 2 SMA Negeri 3 Semarang. Kantor redaksi harian itu bersebelahan dengan sekolahnya. "Honornya enam ribu rupiah. Habis buat mentraktir teman-teman," ujarnya sambil tertawa.

Kegemarannya menulis sempat mendorongnya mendaftar di IKIP Semarang. "Saya ingin menjadi guru bahasa Indonesia," kata ayah dua anak ini. Namun, ia hanya betah satu semester. Ia lantas masuk ke Jurusan Ilmu Komunikasi di Fisipol Universitas Gadjah Mada pada 1988 dan keluar (tanpa lulus) pada 1993. Hijrah ke Jakarta, ia turut mendirikan DeTIK hingga tabloid itu dibredel pada 1994. Di tabloid itu, ia menulis esai-esai pendek di rubrik "Podium", yang kemudian terbit sebagai Podium DeTIK pada 1995.

Laksana pernah terlibat penulisan skenario untuk film dokumenter, Sakura di Bumi Nusantara, juga Suro Buldog dan Telegram yang disutradarai Slamet Rahardjo Djarot. Kini Laksana tengah merintis Jakarta School, sebuah usaha eksperimen yang menawarkan kursus penulisan kreatif. Bekerja sama dengan penerbit AgroMedia Group, program ini akan memberikan beasiswa kepada peserta dari kalangan siswa sekolah. Kelak calon penulis dari kalangan umum akan juga dijaring dalam paket kursus tiga bulanan. Setidaknya, dengan "sekolah" yang akan dimulai awal tahun depan ini, niat Laksana menjadi guru tetap terlaksana. []

Artikel terkait:
Tiga Penguak Tabir

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts