Oleh: A.S. Laksana
Sumber: Majalah Tempo, 9 Agustus 2010

"Setiap cerita bisa melahirkan hal yang mencekam, bahkan tanpa diniatkan untuk begitu. 
Ia membuat kita mewaspadai bahwa ada sesuatu yang bergerak diam-diam, mungkin 
memberontak, yang sering luput dari kesadaran kita."

MEMBACA cerita-cerita Linda Christanty, saya seperti mengalami tamasya yang menyenangkan pada tingkat permukaan tetapi menyimpan gemuruh di lapis bawahnya. Saya menikmati detail, yang dihadirkan melalui pandangan dunia karakter utama, menikmati perjalanan yang lancar, dan merasakan sesuatu mengusik. Ada arus sungai di bawah permukaan yang terus-menerus bergolak dan memberi kita pengalaman mencekam pada saat kita menikmati situasi permukaan itu.

Pengalaman seperti ini hadir lagi dalam kumpulan cerita Rahasia Selma. Ia masih mengajak kita menjelajahi dua wilayah-apa yang kita lihat dan apa yang luput dari penglihatan. Saya kira cerita yang baik sering begitu: ia berkomunikasi di dua lapis kesadaran pembacanya. Ia menemui pembaca dan menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada pembaca. Dan dengan begitu sebuah cerita justru akan terus-menerus membangun kembali dirinya sendiri pada saat menemui pembaca berikutnya. Anda bisa membandingkannya dengan cerita yang menolak pembaca, yakni mereka yang hadir untuk menegaskan diri sendiri.

Hal lain, dalam setiap ceritanya, Linda menunjukkan diri sebagai pencatat yang telaten. Ia cermat terhadap detail tanpa menjadi terobsesi untuk berpanjang-panjang pada apa yang hendak diperinci. Kecakapan ini mengingatkan saya pada kecakapan Jhumpa Lahiri, pemenang Pulitzer untuk kategori fiksi pada 2000 melalui buku pertamanya, Interpreter of Maladies. Dan Linda gigih dalam pemerian. Lihatlah, "Mercusuar memandu kapal-kapal, sendirian, dan kukira situasinya lebih tepat seperti nabi pada umat" (hal. 39, dalam "Mercusuar"). Atau, "Pohon-pohon pinus berjajar di kanan kiri taman, seolah prajurit dalam sikap sempurna: kaku, bisu, mengawasi orang lewat" (hal. 57, dalam "Rahasia Selma").

Kalimat tentang pohon pinus, misalnya, bisa menyampaikan sejumlah hal kepada kita. Di permukaan ia bicara tentang jajaran pohon pinus, tetapi di lapis berikutnya ia bicara tentang tentara yang disebut sempurna jika ia kaku, tak bisa diajak bicara, dan mengawasi setiap orang. Dan Anda punya pengalaman sendiri tentang pinus dan tentara, bukan?

Yang sedikit mengganggu dalam buku ini adalah kata-kata di sampul belakang, yang tidak berhubungan sama sekali dengan cerita mana pun yang ada di buku (Anda tahu, itu hanya dimaksudkan untuk memikat calon pembaca). Di sampul belakang, ada dikutipkan antara lain pendapat Nirwan Dewanto yang menyebut bahwa realisme Linda mencekam justru karena antididaktik. Sayangnya pernyataan itu lalu dibantah sendiri oleh deklarasi lain di sebelahnya, oleh penerbit, yang memberi tahu kita bahwa buku ini berkisah tentang "... Rahasia orang-orang yang berjuang melawan ketidakadilan, trauma, doktrin, mitos, kesunyian, atau bahkan apa yang mereka sendiri tak tahu."

Cerita-cerita Linda disebut antididaktik oleh Nirwan, saya kira karena mereka tidak melakukan preframing. Mereka tidak mendeklarasikan diri bahwa mereka sedang menyarankan sesuatu kepada pembaca, apalagi membongkar rahasia orang-orang yang sedang "berjuang". Kebanyakan cerita Linda hanya mengingatkan bahwa, dalam pengalaman kita, adalah lumrah orang mengatakan "ya" ketika sesungguhnya ingin mengatakan "tidak". Dan kata "tidak" yang tak bisa muncul ke permukaan itu sering akan berupaya keras, dengan berbagai cara, untuk memunculkan dirinya sendiri.

Seperti itulah cerita-cerita Linda datang kepada pembacanya. Pada cerita mana pun dari kesebelas cerita di kumpulan ini, kita akan menemukan situasi yang serupa dengan upaya keras seseorang untuk menyampaikan kata "tidak" ketika di permukaan ia hanya bisa mengatakan "ya". Sebuah kekeraskepalaan? Mungkin.

Dan upaya untuk memunculkan "tidak" itulah yang agaknya memberi kita pengalaman merasakan gemuruh yang tak tampak. Setiap cerita bisa melahirkan hal yang mencekam, bahkan tanpa diniatkan untuk begitu. Ia membuat kita mewaspadai bahwa ada sesuatu yang bergerak diam-diam, mungkin memberontak, yang sering luput dari kesadaran kita. []

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts