Oleh Aan Mansyur, 25 Februari 2015

SEBELUM tamat SMA pada 1997, saya tidak banyak membaca kumpulan cerita pendek. Saya lebih sering menghabiskan waktu membaca novel, komik, dan buku-buku lain. Di rak buku kakek saya, tempat saya banyak mendapatkan bacaan masa kecil saya, hanya ada sedikit kumpulan cerita pendek yang bisa dibaca. Di sana hanya ada Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Idrus), Tegak Lurus dengan Langit (Iwan Simatupang), Perempuan (Mochtar Lubis), dan kumpulan cerpen Pramoedya Ananta Toer, Percikan Revolusi (dan) Subuh. Di perpustakan sekolah, seingat saya hanya pernah membaca kumpulan cerpen Danarto, Godlob, dan Ahmad Tohari, Senyum Karyamin, juga kumpulan cerpen A.A Navis, Robohnya Surau Kami.

Saya telah membaca tidak kurang dari 200 judul kumpulan cerpen yang ditulis oleh pengarang Indonesia—tidak termasuk antologi atau buku berisi cerita yang ditulis oleh beberapa pengarang. Seperti judulnya, tulisan ini berisi daftar buku kumpulan cerpen yang pernah saya baca minimal dua kali. Alasannya bermacam-macam. Sebagian besar, tentu saja, karena saya menyukainya. Namun, ada pula buku yang saya baca beberapa kali karena alasan lain. Saya penasaran dengan gaya bertutur pengarangnya, misalnya.

Meskipun begitu, semua buku yang saya sebutkan di tulisan ini bisa pula Anda anggap sebagai kumpulan cerita pendek yang saya rekomendasikan.

***

Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma

Saya menemukan kumpulan cerita pendek ini pada suatu sore, di toko buku tua yang lebih banyak menjual buku pelajaran sekolah daripada buku jenis lain. Meskipun saya pernah membaca beberapa kumpulan cerpen sebelumnya, buku inilah yang membuat saya betul-betul jatuh cinta kepada cerita pendek dan ingin belajar menulis cerpen. Di buku ini, saya menemukan dunia yang mengerikan, asing, sedih, dan menggoda.

Setelah membaca buku ini, saya membeli semua kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh pengarang yang sama. Terakhir, saya membeli Senja dan Cinta yang Berdarah, buku berisi 85 cerita pendek yang pernah dimuat di Kompas. Namun, menurut saya, Saksi Mata tetaplah kumpulan cerita pendek terbaik Seno Gumira Ajidarma.

Orang-orang Bloomington – Budi Darma

Perkenalan saya dengan Budi Darma bermula di Olenka, novelnya yang berisi kisah manusia-manusia aneh. Novel itu bagus, tetapi saya merasa harusnya bisa lebih padat dan lebih ringkas lagi sehingga tak perlu ada bagian yang bertele-tele. Seorang kawan kemudian merekomendasikan Orang-orang Bloomington dan saya menyukainya. Saya merasa menemukan dan menyelami karekter beragam manusia melalui buku ini. Saya juga membaca semua kumpulan cerpen Budi Darma yang lain. Tapi, favorit saya adalah buku yang satu ini.

Dilarang Mencintai Bunga-bunga – Kuntowijoyo

Suatu hari saya membaca cerita pendek Kuntowijoyo di majalah Horison dan saya menyukainya. Saya kemudian menemukan buku Dilarang Mencintai Bunga-bunga di perpustakaan Fakultas Sastra Unhas, tempat saya dulu kuliah. Cerita-cerita yang ditulis oleh Kuntowijoyo sebetulnya sederhana saja bagi saya. Tetapi, setiap kali kelar membaca satu cerita, saya seperti diminta membaca buku-buku non-fiksi yang sejujurnya dulu tidak begitu saya gemari. Saya kadang merasa cerpen-cerpen Kuntowijoyo adalah hasil penelitian sejarah sosial yang diperas dan dikemas menjadi cerita.
Kumpulan cerita pendek Kuntowijoyo lainnya yang suka adalah Hampir Sebuah Subversi.

Bibir Dalam Pispot – Hamsad Rangkuti

Barangkali banyak orang yang mengenal Hamsad Rangkuti karena judul salah satu cerita pendeknya yang fenomenal, "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu". Cerpen itu ada di buku Bibir Dalam Pispot—dan dimuat di salah satu buku antologi cerpen terbaik Kompas. Saya sendiri mulai jatuh cinta kepada cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti dari dua kumpulan cerpennya yang lain,Lukisan Perkawinan dan Cemara.

Saya menyukai cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti yang tenang dan sederhana, tetapi kadang penuh mengejutkan. Selain itu, tidak banyak penulis cerita pendek yang cukup konsisten membicarakan kisah-kisah kecil orang-orang kecil seperti yang dilakukan Hamsad Rangkuti.

Kuda Terbang Mario Pinto – Linda Christanty

Menurut saya, sejauh ini, penulis prosa Indonesia paling rapi yang pernah saya baca adalah Linda Christanty. Seluruh bagian dalam cerpen Linda seolah diukur dan dipertimbangkan dengan matang—dan, karena itu pula, saya kadang berpikir cerpen-cerpennya kehilangan spontanitas, terutama di buku-buku cerpennya yang lain. Bagian yang paling saya suka dari cerpen-cerpen di buku ini adalah saya merasa hal yang sesungguhnya hendak disampaikan oleh Linda berkelebat seperti bayangan di balik kata-kata yang menyusun ceritanya. Mereka tidak tampak. Mereka menghantui.

Semua kumpulan cerpen Linda Christanty saya baca minimal dua kali. Tetapi, dibandingkan denganRahasia Selma dan Seekor Anjing Mati di Bala Murghab, saya tetap lebih menyukai kumpulan cerpennya yang pertama, Kuda Terbang Mario Pinto.

Mati Baik-baik, Kawan – Martin Aleida

Saya mulai menyukai cerita-cerita Martin Aleida ketika membaca kumpulan cerpennya, Leontin Dewangga. Saya menyukai gaya bertutur pengarang satu ini yang tampak tergesa-gesa—seperti diburu oleh pikiran-pikirannya sendiri—tetapi tetap terukur. Cerita-cerita yang lahir dari kepala Martin Aleida seperti didesakkan oleh kemarahan—atau barangkali dendam—sehingga tampak tidak punya jalan lain selain diungkapkan. Dan, sebagai pembaca, saya merasa juga tidak punya pilihan lain selain mendengarkannya.

Seribu Kunang-kunang di Manhattan – Umar Kayam

Kadang-kadang saya merasa tidak ada yang istimewa dalam cerpen-cerpen Umar Kayam. Tokoh-tokohnya digambarkan biasa saja. Mereka adalah orang-orang biasa dengan kisah yang datar-datar saja. Temanya juga tidak terlalu menarik. Jika ada yang menonjol, barangkali caranya menggambarkan suasana. Tetapi, setiap kali saya membaca satu cerita pendeknya, saya seperti ingin membaca cerita pendeknya yang lain. Saya seolah hadir dan menjadi bagian cerita-cerita itu, menjadi saksi dan mengamati semua hal yang digambarkannya. Dengan alasan itulah saya kemudian menemukan diri saya membaca semua cerita pendeknya yang bisa saya dapatkan.

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali – Puthut EA

Cerpen-cerpen awal Puthut yang saya baca terkesan manis dan dituturkan dengan narasi yang tidak menjemukan. Tetapi, saya merasa puncak pencapaian ceritanya justru hadir di kumpulan Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Berbeda dengan cerpen-cerpennya sebelum itu—misalnya, di buku Kupu-kupu Bersayap Gelap dan Dua Tangisan pada Satu Malam—yang berkisah rada sentimental, cerpen-cerpen di buku ini terasa lebih berisi. Cerpen-cerpen di buku itu menawarkan sesuatu yang lebih dewasa tetapi dituturkan dengan santai.

Dalam Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, Puthut EA terlihat dengan sadar selalu meletakkan tokoh-tokohnya di ruang publik. Bagi saya, itu adalah hal yang sangat menarik dan jarang dilakukan oleh cerpenis Indonesia lainnya.

Cinta Tak Ada Mati – Eka Kurniawan

Jika ada penulis prosa di Indonesia yang betul-betul saya cemburui saat ini, pastilah Eka Kurniawan. Bukan hanya karena dia selalu berhasil menulis novel yang bagus. Tetapi, cerpen-cerpen yang dia tulis pun sangat menyebalkan. Kumpulan ceritanya yang paling saya suka adalah Cinta Tak Ada Mati. Seperti juga di novel-novelnya, saya selalu menemukan Eka Kurniawan berhasil mengubah semua hal yang dia baca menjadi miliknya—dengan caranya sendiri. Dia bertutur dengan rapi dan sungguh seperti juru dongeng yang lihai. Anda akan mengerti maksud saya jika membaca buku cerpennya yang satu ini.

Meskipun Corat-coret di Toilet dan Gelak Sedih, dua kumpulan cerpennya yang lain, juga saya suka,Cinta Tak Ada Mati adalah kumpulan cerpennya yang paling saya suka.

Murjangkung, Cinta yang Dungu, dan Hantu-hantu – AS Laksana

Cerpen-cerpen Eka Kurniawan juga berisi humor yang khas, tetapi dalam cerpen-cerpen AS Laksana—terutama dalam kumpulan Murjangkung ini—jauh lebih tampak dan menjadi salah satu kekuatan cerita. Kekuatan lain AS Laksana menurut saya adalah kemampuannya menjahit potongan-potongan kisah yang mungkin dia dengar atau baca entah di mana menjadi satu cerita yang utuh dan menarik. Dia tampak lihai sekali melakukan hal itu sebagaimana yang dia lakukan di buku cerpennya yang pertama,Bidadari yang Mengembara.

Gaya bertutur AS Laksana yang segar, belakangan ini, tampak banyak digemari oleh sejumlah penulis prosa yang lebih muda. Saya kerap membaca cerita pendek—terutama di Koran Tempo—yang gayanya mirip dengan cara bertutur AS Laksana.

*

SEPULUH kumpulan cerita pendek yang saya sebutkan di atas, selain saya baca dua kali atau lebih, juga saya beli lebih dari sekali. Entah kenapa, setiap kali saya membeli buku-buku tersebut, selalu ada yang mengambilnya atau tercecer entah di mana.

Tentu saja masih ada sejumlah buku cerita pendek lain yang saya suka dan saya baca dua kali atau lebih—termasuk buku-buku yang saya sebutkan di paragraf awal tulisan ini. Saya hanya akan menyebut judul dan pengarangnya—lain kali mungkin saya membeberkan juga alasannya.

1. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta – Gus tf Sakai
2. Perempuan Pala – Azhari
3. Sihir Perempuan – Intan Paramaditha
4. Negeri Para Peri – Avianti Armand
5. Aksara Amananunna – Rio Johan
6. 9 dari Nadira – Leila S. Chudori
7. Ayahmu Bulan, Engkau Matahari – Lily Yulianti Farid
8. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu – Norman Erikson Pasaribu
9. Rumah Kopi Singa Tertawa – Yusi Avianto Pareanom
10. Pulau Cinta di Peta Buta – Raudal Tanjung Banua
11. Kukila – M Aan Mansyur

Tidak ada alasan lain saya memasukkan kumpulan cerpen terakhir itu selain karena saya adalah penulisnya—dan saya berharap Anda mengetahui dan mencarinya di toko buku. Terima kasih.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts