Sumber: Edisi Khusus Majalah Tempo, Desember 2004

"Seni rupawan Handiwirman Saputra, penulis A.S. Laksana, dan arsitek Adi Purnomo 
menyajikan karya-karya seni terbaik 2004 versi majalah ini."

Memilih karya seni terbaik tahun ini adalah menemukan bahwa tanah air yang compang-camping ini masih mempunyai cadangan kreativitas yang cukup. Kreativitas di lapangan kesenian membuktikan bahwa masih ada upaya untuk mengelak dari parahnya mutu penyelenggaraan negara maupun kehidupan publik. Terabaikan oleh kebijakan resmi, tapi seni dan ilmu masih mampu melahirkan para pekarya yang tangguh.

Menetapkan karya seni terbaik adalah juga upaya menguak tabir kesedang-sedangan (mediokritas). Kami menyadari, betapa rendah standar profesi kita di segala bidang, sehingga mediokritas gampang dianggap sebagai kecemerlangan. Bidang seni tak terkecuali dihinggapi sindrom ini: kaum seniman acap menganggap dirinya sebagai pendobrak, padahal kebanyakan sekadar berjungkir balik dengan idiom dan bentuk yang sudah layu. Kecemerlangan bukan merupakan ciri umum seni, melainkan noktah-noktah yang menyebar di sana-sini, sering tersembunyi.

Tentulah tak mudah menemukan karya yang unggul. Sosok seniman sering lebih besar ketimbang karyanya. Nama yang telanjur dikenal kerap sekadar bungkus untuk karya yang kering-kerontang, yang berpihak pada klise. Masyarakat kita masih dihantui kelisanan: the singer, not the song. Itulah sebabnya kami memilih bukan tokoh seni, tetapi karya seni. Tokoh seni, seperti halnya tokoh di bidang lain, hanya mengait pada aktualitas, pada yang gegap-gempita, sementara karya seni menuntut pembacaan dan tafsir yang tekun. Juga kebaruan dan kesegarannya tak segera diterima dengan layak, karena khalayak pada umumnya terbiasa dengan bahasa dan bentuk yang sudah mapan.

Kesulitan lebih berlipat ganda karena kalangan seni sendiri kini gagap menilai. Bersikap lajak dengan teori, overtheorizing, para kritikus kita menjadi hilang kepekaan dalam mencandera karya seni, maka surut pula nyali untuk menetapkan mutu. Contohnya, kritik seni menjadi studi budaya, yang menganggap karya seni sebagai artefak budaya—sehingga memahami seni adalah bersolider dengan masyarakat yang melahirkannya; dan melakukan kritik seni berarti mengamalkan ideologi dominan, katakanlah borjuasi atau patriarki. Demikianlah pluralisme menjadi relativisme mutlak. Namun, bagi kami, kreativitas tak akan jalan tanpa persaingan, termasuk persaingan dalam penilaian.

Itu sebabnya kami menilai dan menetapkan karya-karya terbaik. Dari pelbagai bidang seni dan desain, kami—Seno Joko Suyono, Idrus F. Shahab, Leila S. Chudori, F. Dewi Ria Utari, Endah W.S., Marco Kusumawijaya, dan Nirwan Dewanto—berhasil memilih karya-karya terbaik di lapangan sastra, seni rupa, dan arsitektur. Bidang-bidang lain hanya menampilkan karya yang memperkuat rutin kesenian belaka.

Tak sedikit koreografer muda di bidang tari, misalnya, namun mereka masih bersibuk-sibuk dengan gerak muskil dan pelbagai spektakel lainnya, sering pula terjebak pada kosabentuk para senior mereka, dan belum kunjung mampu menata dan berabstraksi. Ada sejumlah pentas teater yang layak dikaji; yang menonjol di antaranya adalah "teater citra dan bunyi" di mana manusia (aktor) menjadi setara dengan benda-benda; sayang bahwa naskah yang buruk-bahasa itu menggerogoti sajian panggung. Maka karya-karya terbaik tahun ini adalah kumpulan cerita pendek A.S. Laksana Bidadari yang Mengembara, pameran seni rupa Handiwirman Saputra Apa-apanya Dong?, dan karya arsitektur Adi Purnomo. Karya-karya ini memiliki bentuk yang kukuh, katakanlah tepat-tajam dalam menyampaikan gagasan.
"Kisah-kisah Laksana terancang dengan sangat baik, namun ini bukan rancangan untuk membina kesatuan cerita, melainkan untuk meneguhkan watak fiksi sebagai apa yang beririsan dengan fakta (realitas) namun tak pernah menjadi representasi yang sempurna."
Dua belas cerita pendek A.S. Laksana, 36 tahun, begitu menonjol manakala mayoritas puisi kita terjebak pada keruwetan, dan cerita-cerita kita memerosotkan diri menjadi sekadar berita. Gejala ini membuktikan bahwa para sastrawan belum tentu pengguna bahasa yang piawai: bahasa mereka bukan hanya ceroboh, tapi juga tak bernalar. Kisah-kisah Laksana terancang dengan sangat baik, namun ini bukan rancangan untuk membina kesatuan cerita, melainkan untuk meneguhkan watak fiksi sebagai apa yang beririsan dengan fakta (realitas) namun tak pernah menjadi representasi yang sempurna. Karya Laksana menghidupkan kembali seni bercerita, sekaligus mengandung sikap kritis terhadap bentuk cerita itu sendiri. Ketika kita merasa puas dengan pengalaman para tokoh, si narator menyadarkan kita bahwa semua itu hanya ingatan atau tuturannya yang boleh jadi keliru.

Bahasa Laksana cemerlang: ia mahir berakrobat dengan tata bahasa. Kalimat-kalimatnya yang ketat tak mendeskripsikan urutan peristiwa, melainkan menjajarkan dan mengocok keping-keping pengalaman dan tuturan dengan lincah. Tokoh-tokohnya sableng, liar pula cara mendekati mereka, namun semua itu tersaji dalam tata yang sedap dan perlu, tata yang tak bisa ditambah-kurangi lagi. Humor, kelisanan, dan budaya massa teraduk manjur dalam kisah justru lantaran Laksana benar-benar menguasai tulisan. Kita bisa asyik meniti aliran kalimat, tersesat di dalam hutan cerita, dan menemukan jalan keluar sendiri. Narator adalah kawan sekaligus lawan kita dalam merumuskan kenyataan: siapakah yang lebih benar di antara dia dan pembaca?

Pameran Handiwirman Saputra, 29 tahun, di Galeri Nadi, Jakarta, pada September lalu, menampilkan lukisan dan obyek trimatra. Namun lukisan Handiwirman tidaklah menampilkan kembali benda dari alam nyata, melainkan membuat benda. Itulah lukisan yang menimbulkan sensasi layaknya patung: obyek terlukis di atas kanvas mempunyai kedalaman atau volume, seakan bisa kita raba. Jikapun kita merasa mengenali obyek di sana, segera pula persepsi kita terkacaukan. Sofa, misalnya—tapi apa yang tergolek di atasnya: lidah, torso, gulali transparan, atau apa? Atau, paduan dari dua obyek itu segera membentuk obyek lain: mulut dengan gigi, misalnya. Sementara itu, benda trimatra pun tersusun menjadi (seperti) lukisan: jajaran lampu neon yang tersusun rapi di atas bidang menjadi garis, dan tumpukan rambut di depannya akan tercerap sebagai leleran tinta.

Dengan pameran itu, Handiwirman tampak menonjol di tengah seni rupa kita yang dilumuri "ekspresionisme baru" maupun "seni konseptual"—yang pertama adalah nama generik untuk lukisan coret-moret yang melecehkan anatomi; yang kedua untuk menyebut karya yang dijajah konsep, misalnya seni instalasi atau seni rupa pertunjukan. Sebagai antipoda terhadap keduanya, Handiwirman menggagas lebih tajam, yaitu mempersoalkan dasar-dasar representasi dan persepsi dalam seni rupa; ia juga berekspresi lebih gemilang, karena ia mempunyai keterampilan menggambar dan merakit. Bentuk-bentuknya yang ringkas, hening, kompak, dan elok adalah subversi terhadap kemubaziran dan kelimpahan dalam dunia seni rupa maupun kehidupan sehari-hari.

Adapun Adi Purnomo, 36 tahun, mendayagunakan bahasa arsitektur kontemporer demi tujuan yang bermakna. Karya-karyanya di Jakarta tahun ini—Rumah Cipete, Rumah Ciganjur, dan Gereja Santa yang baru—sangat memperhitungkan lingkungan alam dan budaya setempat. Dengan variasi bahan dan warna sesedikit mungkin, tapi dengan pengerjaan detail yang teliti, elemen-elemen ruang dapat berbicara sendiri sekaligus mencapai kesederhanaan yang menyatu dengan fungsi. Bentuk-bentuk ruangnya yang geometris itu mungkin saja serupa satu sama lain, namun suasana tiap ruang sangat berbeda karena penggunaan cahaya alamiah yang khas pada masing-masingnya. Rancangan Adi Purnomo bukan hanya memadukan ekspose bahan dan struktur, namun juga membiarkan ruang dalam (ruang beratap) bebas bermain dengan ruang luar.

Karya-karya Adi Purnomo sungguh berbeda dari arus umum yang mendangkalkan arsitektur menjadi kegenitan atau ketertiban visual yang dibuat-buat. Kesederhanaan rancangannya menjadi tepat-sasaran karena jujur menjawab tuntutan konteks dan mementingkan apa yang mendasar: bahwa ruang-ruang yang nyaman itu sendirilah yang merupakan pusat pengalaman keindahan. Organisasi ruang pada karya Adi Purnomo adalah semacam panduan yang melawan arus bagi mereka yang hendak mengalami modernitas secara mendalam. Inilah yang membuat ia menonjol di antara kaum arsitek segenerasi maupun pendahulunya.

Bukan kebetulan bahwa karya-karya terpilih di atas bertolak dari keterampilan. Bagi kami, tak ada penjelajahan dan gagasan tanpa keterampilan, yaitu penguasaan bahasa dan bahan. Bentuk seni bukan hanya sarana, namun sumber gagasan itu sendiri. Sebab, begitu banyak spesialis kita yang tergoda untuk berperan besar telah melecehkan tuntutan disiplin mereka: mereka menjadi "cendekiawan", padahal mereka hanya terhanyut ke dalam klise tentang perubahan dan komitmen sosial. Sesungguhnya karya yang unggul selalu memberi kita citra baru tentang dunia—citra bahwa dunia ini bisa diubah. Itulah yang telah ditunjukkan oleh pesastra A.S. Laksana, pekria Handiwirman Saputra, dan perancang Adi Purnomo tahun ini.[]

Artikel terkait:
Menggambar Sulak
Muslihat Sang Pencerita


0 comments:

Post a Comment

Popular Posts