A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 11 Desember 2016)

AKHIR tahun lalu, Kedutaan Besar Finlandia mengundang empat penulis untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Jenni Haukio, 39 tahun, penyair dan Ibu Negara Finlandia yang akan bersama suaminya mengunjungi Jakarta. Tempat pertemuan di Galeri Cemara 6 dan Ibu Toety Heraty akan bertindak sebagai tuan rumah. Saya baru tiba di Bandar Lampung bersama penyair Joko Pinurbo, Ahda Imran, dan Adi Wicaksono saat membaca email undangan itu; kami ke sana untuk pelesir dan membaca di panggung—kegiatan yang selalu membuat saya gemetaran—bersama tiga penyair tuan rumah Ahmad Yulden Erwin, Ari Pahala, dan Iswadi Pratama.

Keesokannya seorang staf kedutaan menelepon, menanyakan apakah saya menerima email dan apakah bisa datang. Saya menjawab ya pada siang hari, dan melamun pada malam harinya.

Saya hampir tidak mengenal Finlandia, kecuali bahwa itu negeri utara yang tidak masuk dalam rumpun bangsa-bangsa Skandinavia, sebuah tempat yang tak banyak mendapatkan cahaya matahari, yang pada musim dingin hari-harinya selalu seperti subuh. Seperti hidup di dalam kulkas, seseorang menulis dalam sebuah blog. Ia orang Indonesia yang melanjutkan kuliah di Turku, kota tertua di sana. Saya membayangkan diri sendiri hidup di dalam kulkas. Mungkin umur saya akan panjang, daging saya awet, dan hidung saya akan menyemburkan uap, seperti bison.

Ketidaktahuan saya tentang negeri utara itu makin parah dengan fakta bahwa dari semua buku yang saya miliki, hanya ada satu buku Finlandia: Kalevala, sebuah puisi epik, tentang penciptaan dunia, tentang manusia pertama mereka, tentang cinta dan pertarungan, tentang jimat dan mantra, tentang perempuan yang tak sudi dijadikan tebusan, tentang tempat tergelap nun di sana dan bagaimana kehidupan di bumi bermula.

Saya menyukai buku itu, dan membacanya seperti mendengar lelaki tua mendongeng:

Inilah kalam penuntunku ketika kanak,
Lagu lestari masa silam,
Kisah-kisah yang dipungut
Dari sabuk Wainamoinen,
Dari tungku Ilmarinen,
Dari pedang Kaukomieli,
Dari busur Youkahainen,
Dari padang gembalaan negeri utara,
Dari hamparan rumput Kalevala.
Inilah nyanyian ayahku tercinta
Saat bekerja dengan pisau dan kapaknya
Inilah yang diajarkan ibu nan lembut
Sambil menisikkan jarum pada anyaman 
Saat aku terguling dekat kakinya

Saya menyukai dongeng hingga sekarang, dan iseng-iseng menerjemahkan buku itu beberapa tahun silam saat baru mulai membacanya, dari versi Inggris karena saya tidak memahami satu kata pun bahasa Finlandia, namun saya tidak yakin akan mengerjakannya hingga selesai satu buku. Ada banyak buku yang saya sukai, dan saya memiliki kebiasaan tak terkendali untuk menerjemahkan buku-buku yang saya sukai, lalu berhenti setelah beberapa belas halaman, mungkin satu atau dua bab, dan merampungkan bagian selanjutnya dengan membaca saja.

Pada satu hari menjelang acara pertemuan, kerisauan saya menjadi-jadi. Apa yang bisa saya bicarakan kepada orang dari negeri yang nyaris tidak saya kenali? Kemudian pikiran saya meloncat-loncat ke sana kemari, meragukan diri sendiri. Dan apa sebenarnya yang saya kenali? Apakah saya benar-benar mengenali negeri saya sendiri? Apakah saya mengenali Semarang, kampung masa kecil saya, mengenali Yogyakarta, tempat saya pernah singgah beberapa tahun, mengenali Jakarta, tempat tinggal saya sekarang? Apakah saya mengenali rasa bahagia dan kepedihan orang-orang di sekitar saya?

Tidak, untuk semua pertanyaan.

Namun akhirnya saya tetap memutuskan berangkat, mengenakan batik, seperti Nelson Mandela, tetapi dengan kepala kosong, dan berniat hanya akan menjadi pendengar, menenteramkan diri sendiri sepanjang jalan bahwa menjadi pendengar yang baik adalah bagus juga dalam suatu percakapan.

Saya bersyukur bahwa pemimpin Afrika Selatan, Nelson Mandela, suka mengenakan batik untuk acara-acara resminya. Saya bisa menirunya dan ke mana-mana mengenakan batik. Orang-orang Afrika Selatan tidak berani mengenakan batik semasa Nelson hidup, sebab mereka menghormati pemimpin mereka. Itu pakaian dewa, kata mereka. Orang-orang di sana baru berani mengenakan batik setelah Pak Dewa mereka meninggal.

Ibu negara sedang bercakap-cakap berdua dengan tuan rumah, Ibu Toety Heraty, di dalam ruangan tertutup saat saya tiba. Ada waktu untuk merokok—sebatang, lalu sebatang lagi, lalu sebatang lagi ... sampai akhirnya mereka keluar dan kami kemudian duduk mengitari meja yang ditata untuk percakapan siang itu. Di sebelah saya penyair Eka Budianta dan novelis Okky Madasari.

Kami bicara bergiliran. Kepada Jenni saya mengakui terus terang bahwa saya tidak mengenal Finlandia dan hanya punya Kalevala di antara semua buku di rak saya. Itu buku yang disusun pada abad ke-19, oleh Elias Lönnrot, dari dongeng-dongeng lisan yang semula dinyanyikan sebagai lagu rakyat oleh orang orang-orang Finlandia.

“Oh, itu buku yang dibaca oleh hampir semua orang Finlandia,” kata Jenni. “Semua murid sekolah di negara kami membacanya sampai sekarang.”

Saya percaya. Finlandia memiliki sistem pendidikan yang baik. Selama lima belas tahun terakhir ia selalu menduduki peringkat pertama untuk urusan efisiensi dalam sistem pendidikan dan paling berhasil dalam program literasi. Indonesia di peringkat ke-28 dari 30 negara, dan yang terakhir dalam urusan gaji guru.

Sepanjang pertemuan, Jenni tampak tenang, orang-orang yang menyertainya juga terlihat tenang. Dari pengantar edisi Inggris buku Kalevala, yang ditulis oleh penerjemahnya, saya mendapatkan pernyataan bahwa “Orang-orang Finlandia terkenal penyabar, dan hanya diam jika marah. Mereka periang, saling mengasihi satu sama lain, jujur dan penuh hormat dalam berhubungan dengan orang asing.”

Setelah rampung acara, saya bercakap-cakap berdua dengan Ibu Toety Heraty, sampai maghrib. Ia memberi saya bukunya Calon Arang, dengan tanda tangan dan catatan: “Aneh, ya, kok kita baru bertemu kali ini.”

Setahun berikutnya, November tahun ini, saya membaca email dari Jenni, yang dikirimkan melalui Kedutaan, “We met in 2015 in Jakarta....

Ia mengundang saya—saya yakin juga semua penulis lain yang ia pernah temui—berpartisipasi menulis cerita kecil saja di Facebook tentang anak-anak, untuk memperingati ulang tahun UNICEF ke-70, pada 20 November. Saya bersedia, demi menghormati ajakan ramah, dari orang yang saya pikir tidak akan pernah mengingat lagi pertemuan satu kali itu, karena kesibukannya sehari-hari sebagai penulis, aktivis, dan ibu negara.

Sekarang pengetahuan saya bertambah sedikit lagi tentang negeri utara itu. Saya percaya apa yang tertulis di dalam pengantar buku Kalevala tentang orang Finlandia. Dan koleksi buku Finlandia saya menjadi dua karena tahun lalu Jenni membagi kami kumpulan puisi terakhirnya, Sinä kuulet sen soiton (You hear the music).

3 comments:

  1. Kalevala untuk finlandia..kkpk untuk indonesia..kecil kecil punya karya.Buku ini sebagai salah satu pendongkrak semangat baca,dan mencipta.Dg dmk budaya literasi meningkat

    ReplyDelete
  2. Meski bukan kerupuk tulisannya terasa renyah bahasanya

    ReplyDelete
  3. Selalu suka tulisan2 anda. Gaya bahasanya unik, seperti orang bercerita

    ReplyDelete

Popular Posts