Sekolah Waldorf menyingkirkan jauh-jauh segala perangkat teknologi digital dari ruang kelas, seperti menyingkirkan racun serangga dari jangkauan anak-anak.



A.S. Laksana
(Ruang Putih, Jawa Pos, 4 Desember 2016)

Murid-murid Waldorf: Menggunakan geometri untuk berkebun.
KAMI duduk-duduk di teras rumah pada Minggu pagi pekan lalu. Anak saya sibuk dengan laptopnya, mencari foto-foto Valentino Rossi, Marc Marquez, dan beberapa animasi balap MotoGP yang tersedia di internet. Ia sedang menyiapkan bahan presentasi di sekolahnya tentang pekerjaan yang ia inginkan kelak. Saya sibuk minum kopi dan mengunyah lanting, makanan keras dari singkong yang bentuknya seperti cincin atau angka delapan, sambil menunggu penjual pecel langganan kami lewat.

“Memangnya ada perempuan yang jadi pembalap motor?” tanya saya.

“Ada,” katanya. Ia menunjukkan kepada saya foto Ana Carrasco dan Maria Herrera, dua pembalap motor dari Spanyol.

Ia tiga belas tahun sekarang, kelas dua SMP, dan sudah fasih mengoperasikan berbagai macam aplikasi di komputernya. Dalam urusan ini ia jauh lebih maju ketimbang saya, yang sampai umur tiga puluhan masih cemas menghadapi komputer, seolah-olah perangkat itu akan meledak jika saya sentuh tombol-tombolnya; jauh lebih maju dibandingkan Pak Umar Kayam (almarhum), yang hanya bisa menggunakan mesin tik untuk menulis novel Para Priyayi.

Adiknya lebih maju lagi, sudah sibuk dengan gawai (gadget) sejak umur empat tahun, seperti anak Gordon Gekko, pialang saham yang tamak dalam film Wall Street (1987) garapan Oliver Stone. Sekarang ia enam tahun, sudah mahir mengunduh video-video dari Youtube dan berbagai game di gawai ibunya. Itu jenis keterampilan yang membuat ibunya jengkel karena ponselnya menjadi lemot. Hampir setiap hari mereka ribut, dan anak itu akan membuat ancaman yang terdengar sangat mengerikan bagi ibunya: “Nanti ku-download semua.”

Saya kira kecakapan digital anak bungsu saya ini, jika dibandingkan dengan kemahiran para pengarang tua yang mandek di mesin tik, sama dengan jarak antara langit dan dasar sumur bor. Jangankan dengan para pengarang tua, dibandingkan dengan anak-anak para pioner teknologi digital pun ia jauh lebih unggul.

Anda tahu, di Silicon Valley, jantung teknologi digital Amerika Serikat, anak-anak para karyawan dan petinggi berbagai perusahaan raksasa teknologi digital, seperti Google, Yahoo, Apple, dan Hewlett-Packard sama sekali tidak mengenal komputer, apalagi smartphone. Anak-anak itu mereka sekolahkan di Waldorf School of Peninsula, sekolah mahal dengan metode pengajaran yang terlambat satu abad dibandingkan perkembangan teknologi digital hari ini.

Ada sekitar 160 sekolah Waldorf di AS dan semuanya dijalankan dengan metode yang sama. Tidak ada komputer di sekolah, tidak ada iPad, tablet, maupun telepon genggam. Sekolah itu menggunakan peralatan apa saja kecuali perangkat-perangkat teknologi tinggi. Para siswa belajar dengan pena, kertas, jarum rajut, pisau, dan juga lumpur untuk mengotori baju dan tubuh mereka.

Guru-guru di sekolah itu lebih senang mendorong para siswa berkegiatan seni, seperti menggambar dan melukis, bukan mengunduh informasi dengan komputer atau tablet. Ketika mereka belajar mitologi Skandinavia, misalnya, para siswa diminta menggambar sendiri ilustrasi untuk cerita yang mereka tulis. Bersamaan dengan istirahat makan siang, mereka belajar pembagian dengan pisau yang mereka gunakan untuk membelah kue atau apel. Pada kesempatan lain mereka belajar menemukan pemecahan soal-soal matematika melalui kegiatan merajut, atau belajar bahasa sambil bermain lempar tangkap. Guru membacakan bait puisi, para siswa berdiri melingkar dan menirukan bait yang dibacakan oleh guru. Anak yang menjadi sasaran lemparan kantung berisi kacang merah harus menangkapnya.

“Dua anak saya bersekolah di sana dan mereka bahkan tidak tahu cara menggunakan mesin pencari,” kata Alan Eagle.

Alan adalah pejabat bagian komunikasi di Google. Ia menggunakan iPad dan smartphone, dan melakukan presentasi dengan layar, tetapi kedua anaknya buta sama sekali dengan perangkat-perangkat itu. Pihak sekolah bahkan mengingatkan para orang tua untuk menjauhkan anak-anak dari semua jenis perangkat teknologi tinggi, termasuk televisi.

“Kami menerapkan metode pembelajaran yang sudah teruji sepanjang waktu,” kata seorang guru di Waldorf. “Dan itu tidak membutuhkan komputer atau tablet atau perangkat teknologi tinggi. Orang tua mereka, dan para inovator yang kita kenal, juga tidak bersentuhan dengan komputer ketika kanak-kanak.”

Amico, guru tersebut, menyampaikan bahwa mereka lebih mempercayai pendekatan kreatif dalam pendidikan ketimbang memperlihatkan gambar-gambar pada layar. Televisi, komputer, tablet, smartphone, dan berbagai perangkat teknologi tinggi membuat anak-akan membeku dan soliter. Permainan membuat anak-anak bergerak dan berimajinasi.

Apa yang baru saya sampaikan itu sebenarnya adalah kabar lawas. Di situsweb New York Times, berita ini sudah ditulis pada 23 Oktober 2011. Media besar Inggris, The Guardian, mengangkat lagi isu tentang Waldorf  pada 2 Desember 2015, dengan menambahkan informasi tentang London Acorn, sekolah di Inggris yang memiliki kebijakan serupa dengan Waldorf.

Di Morden, London, sekolah tersebut melarang penggunaan smartphone dan komputer bagi para siswa di bawah usia 12 tahun. Mereka juga dilarang menonton televisi bahkan pada hari libur. Izin untuk menonton televisi baru keluar setelah mereka melewati usia dua belas, dan itu pun terbatas pada film dokumenter yang disetujui orang tua. Untuk bisa menonton film, mereka harus menunggu satu hari setelah ulang tahun ke-14. Berselancar di internet? Tunggu dua tahun lagi saat usia mereka 16. Peraturan kejam itu berlaku baik di sekolah maupun di rumah.

Begitulah sekolah mereka. Sekolah masa depan yang dikelola dengan metode satu abad silam. Dan orang tua harus membayar mahal untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah kuno semacam itu.

Saya maupun Gordon Gekko tentu tak sanggup menyekolahkan anak saya di sekolah semacam itu. Saya terlalu lemah kepada anak-anak dan tak bisa melarang mereka memegang perangkat-perangkat yang menurut Waldorf maupun Acorn harus disingkirkan jauh-jauh dari jangkauan anak-anak, sama seperti racun serangga. Dan mereka sudah telanjur. Saya masih bersyukur bahwa sekolah SMP anak saya melarang siswa-siswanya membawa ponsel.

Pukul setengah sembilan penjual pecel lewat dan saya memanggilnya. Ia ramah dan bicaranya lantang, mungkin dari jarak 45 meter saya sudah bisa mendengarnya.

Sampean dari Cilacap, Mas?” tanyanya.

“Semarang,” kata saya.

“Saya kira dari Cilacap, soalnya kok ada lanting,” katanya.

Saya selalu berpikir lanting adalah makanan dari Gombong, sebab dulu ada saudara yang bekerja di sana dan setiap pulang selalu membawa oleh-oleh lanting.

“Itu anaknya masih kecil kok sudah pintar main laptop,” katanya. “Sekolah kelas berapa?”

“Dua SMP,” jawab anak saya.

“Sama, anak saya juga kelas dua SMP, dan sekarang juga minta laptop. Memang kalau sudah kelas dua SMP anak-anak sekarang ini pasti perlu laptop.”

Saya membenarkan saja ucapannya. Ia berpamitan setelah urusan dengan saya selesai, berbelok ke tikungan, dan saya mendengar suaranya menawarkan pecel kepada para tukang bangunan yang sedang bekerja merubuhkan rumah tetangga. Kepada mereka ia juga menyebut-nyebut laptop. Kelihatannya ia senang menyebut-nyebut kata itu. []


Inilah suasana pembelajaran di Waldorf School



Baca artikel lain:

Kampanye Gemar Membaca dengan Gong dan Slogan

Ada anak-anak sekolah menyanyikan lagu gemar membaca, ada perayaan dengan tari-tarian, ada senam gemar membaca, ada orang memukul gong, dan tentu saja ada sejumlah pejabat berpidato. Cuma, saya tidak yakin akan ada orang yang tergerak membaca setelah mendengarkan pidato bupati atau melihat orang memukul gong.

3 comments:

  1. Terimakasih sudah membahas hal ini...
    Salam kenal www.jagadalitschool.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
    http://grosirsponmandi.klikspo.com/

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas artikel tentang sekolah ini bang. Inspiratif buat nulis.

    ReplyDelete

Popular Posts